SAATNYA DAN SELAYAKNYA ANDA MENGETAHUI

Kamis, 22 Agustus 2013

Cinta dalam Perspektif Islam

Ketika Kita berbicara tentang Cinta, banyak sekali penafsiran-penafsiran personal dari yang abstrak hingga yang konkrit, dari yang konvensional hingga ke fenomenal, subyektif atau objektif, dan memang Kita boleh berargumen sesuai kapasitas masing-masing. Cinta merupakan bagian penting dari isi Hati (qalb), karakteristik dari Cinta seseorang diwarnai oleh karakteristik hatinya. Orang yang hatinya baik maka ekspresi Cintanya juga bersifat positif, sebaliknya orang yang kualitas hatinya jelek maka dalam mengekspresikan Cintanya pun bersifat negatif. Hal ini bisa Kita perhatikan pada realita yang ada.


Setiap manusia normal, setiap kali mengerjakan sesuatu perbuatan pasti di balik perbuatan itu ada tujuan yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan itu terkadang hanya bersifat biologis, terkadang pemuasan kebutuhan psikologis, atau bisa juga untuk pencapaian nilai-nilai tertentu sesuai keinginan masing-masing. Tingkah laku manusia tidak mudah dipahami tanpa mengetahui apa yang mendorongnya melakukan perbuatan tersebut. Faktor-faktor yang menggerakkan tingkah laku manusia itulah biasa disebut “Motif”. Dalam bahasa Arab, faktor-faktor penggerak tingkah laku itu disebut ad dawafi’an nafsiyyah yang artinya dorongan-dorongan yang bersifat psikologis. Salah satu motif yang paling kuat dalam mendorong nafs (jiwa) manusia adalah Motif Cinta. Pada tingkat tertentu Motif Cinta bisa mendorong orang mampu melakukan pekerjaan yang besar yang positif, juga dapat mendorong orang melakukan perbuatan luar biasa yang sangat destruktif.

Menurut Al-Qur’an, manusia diciptakan Tuhan berpasangan lelaki-perempuan dan kepada mereka dianugerahi perasaan Cinta dan Kasih Sayang, dan sudah menjadi fitrahnya bahwa manusia ingin mencintai dan dicintai. Tercapainya kebutuhan Cinta itu bilamana ketika mengerjakannya dengan benar akan membuat manusia merasa tenteram, tenang dan bahagia, sebaliknya Cinta yang dikerjakan dengan cara yang salah akan mengantarkan pada penderitaan. Al-Qur’an memberikan perumpamaan perasaan Cinta antar laki-laki perempuan dengan istilah mawaddah, rahmah, syaghafa, mail, dan h­ubb-mahabbah.

Cinta memang memiliki dimensi yang sangat luas dan mendalam dimana perbedaan karakteristik itu akan membawa implikasi pada perbedaan tingkah laku. Cinta itu sendiri diungkap dalam bahasa Arab dengan tiga kelompok karakteristik, yaitu; 1) apresiatif (ta’dzim), 2) penuh perhatian (ihtimaman) dan 3) cinta (mahabbah). Ketiga kelompok karakteristik itu terkumpul dalam ungkapan mahabbah, orang yang disebut habib, habibah atau mahbub. Dalam ayat-ayat Al-Qur’an ada beberapa istilah, sebagai berikut :

      1.      Cinta mawaddah, artinya adalah jenis Cinta yang menggebu-gebu, membara, keinginan untuk selalu              berdua-duaan, romantis, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya.
      2.      Cinta rahmah, artinya adalah jenis Cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap             melindungi. Orang yang memiliki jenis Cinta ini, biasanya lebih memperhatikan orang yang dicintainya             daripada dirinya sendiri. Dia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan        kekasihnya.
     3.      Cinta mail, artinya adalah jenis Cinta yang menyedot perhatian. Begitu menyilaukan sehingga membuat          orang yang terkena Cinta ini akan cenderung melalaikan hal-hal lainnya yang juga berharga.
     4.      Cinta syaghaf, artinya adalah Cinta yang mendalam, alami dan memabukkan. Orang yang terserang Cinta      ini bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dia lakukan.
      5.   Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih sayang yang bersumber dari rasa iba dan kasihan, rasa sayang ini bisa              cenderung membuat orang lain lupa dengan norma-norma kebenaran.
    6.     Cinta shobwah, yaitu Cinta buta yang mendorong perilaku penyimpangan tanpa sanggup mengelak. Orang     yang terkena Cinta ini, sanggup melakukan apa saja demi hasrat dan gejolaknya terluapkan.
    7.      Cinta syauq, adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan                 kobaran Cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha       fi qalb al muhibbi. Cinta ini berarti adalah perasaan rindu yang menggebu-gebu tak terbendung dan             menyesak dada orang yang mencinta.
   8.     Cinta kulfah, yakni perasaan Cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski          sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya untuk mandiri. Cinta seperti ini cenderung menginginkan          orang yang dicintainya bisa melakukan apa yang dia pikirkan/ kehendaki.

Menurut hadist, orang yang sedang jatuh Cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Rasulullah, orang bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa ‘abduhu). Kata Rasul pula, ciri dari Cinta sejati ada tiga : 1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, 2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan 3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/ diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh Cinta kepada Tuhan, maka ia lebih suka berbicara dengan Tuhan, dengan membaca firman-Nya, lebih suka bercengkerama dengan Tuhan dalam I’tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Tuhan daripada perintah yang lain.

Menurut Imam Gazali, ada empat tingkat kualitas Cinta; 1) Cinta diri, semua hal yang berhubungan dengan Cinta diukur dengan kesenangan diri sendiri, 2) Cinta transaksional, yakni Cinta kepada orang lain sepanjang orang yang dicintainya itu membawa keuntungan bagi dirinya, seperti cintanya pedagang kepada pembeli, 3) Cinta kepada orang baik meski tak memperoleh keuntungan langsung, seperti Cinta orang kepada ulama dan pemimpin, ia sanggup berkorban demi orang baik yang dicintainya, 4) Cinta kepada kebaikan, terlepas dari siapa yang memiliki kebaikan itu, bahkan kebaikan yang ada pada musuhnya. Cinta jenis terakhir inilah yang bisa mengantar manusia ke tingkat Cinta kepada Tuhan. Seperti Rabi’ah al Adawiyah, cintanya kepada Tuhan bahkan sudah tidak memberi ruang di dalam hatinya untuk membenci, bahkan untuk membenci syaitan.

Karena Cinta adalah motif atau faktor penggerak tingkah laku, maka kualitas cintanya akan memengaruhi kualitas perilakunya. Tidak bolehlah kita terlalu fanatik dengan Cinta yang subtansinya belum kita ketahui. Orang Islam diajarkan untuk selalu ikrar minimal lima kali dalam sehari kepada Tuhan, inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahirabbil’alamin, sesungguhnya shalatku, ibadahku, bahkan hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Karena Cinta bersifat indah, maka orang yang sedang dimabuk Cinta hatinya selalu berbunga-bunga, wajahnya berseri-seri, memersepsi alam (misalnya bulan, samudra, langit, bentangan alam dsb) sebagai dukungan atas cintanya, oleh karena itu ia mengerjakan pekerjaan dengan riang gembira.

Cinta merupakan fitrah isi hati maka perasaan Cinta tumbuh bersamaan dengan berfungsinya hati sebagai instrumen psikologis, hati (qalb) berfungsi cenderung mengikuti masa pertumbuhan dan usia. Pada masa puber pertama, (15-17 tahun) perasaan Cinta itu selalu muncul dan mencari-cari objek. Anak usia puber yang belum menemukan lawan jenis sebagai obyek cintanya akan didera rasa gelisah secara terus menerus, namun ketika menemukan obyek cintanya bahkan membuat hatinya makin mengelisah. Cinta puber sangat membara tetapi belum bisa dipastikan, oleh karena itu ia juga mudah putus dan mudah berganti. Ia indah, menggoda, tetapi penuh gejolak, jarang sekali cinta puber yang berakhir dengan pernikahan.

Setelah melewati masa puber pertama, sekitar usia 21-25, perasaan Cinta yang muncul sudah merupakan perasaan yang mapan. Ia muncul bisa oleh pandangan pertama, bisa juga karena pergaulan setiap hari.

Cinta Pandangan Pertama
Cinta seperti ini biasanya dipicu oleh bertemunya unsur daya tarik tertentu dan selera tertentu. Daya tarik itu bisa oleh sosok utuh seseorang, bisa juga oleh lirikan maut, bisa oleh senyumannya yang sangat menawan, bisa juga oleh suaranya yang sangat merdu atau perilaku khas dari orang itu yang sangat mengesankan, daya tarik khas mana kemudian bertemu dengan orang yang memiliki selera khas pula. Cinta sulit dianalisa secara ilmiah, karena ini berhubungan dengan perasaan. Sebagaimana sulit menerangkan rasa manisnya gula, demikian juga sulit menguraikan gemuruh Cinta. Bagi orang yang sudah merasakan manisnya gula, meski tidak sanggup menguraikan secara ilmiah, tetapi manisnya gula sudah menjadi “haqqulyaqin” yang tidak tergoyahkan oleh argumen apapun yang mengatakan bahwa gula tidak manis. Demikian pula orang yang telah merasakan manisnya Cinta, ia tidak pernah mau mendengar penilaian orang lain yang menggugat berdasarkan analitik.

Cinta Karena Biasa
Perasaan Cinta juga bisa tumbuh karena berlangsungnya komunikasi yang lama, misalnya Cinta yang tumbuh antara dua orang yang kuliah bersama, atau antara teman sekerja, atau teman seperantauan, teman sependeritaan, dsb. Bisa juga terjadi antara dua orang yang tadinya saling membenci, setelah bergaul lama, terutama pergaulan senasib dan sependeritaan, atau jujur, atau setia atau sebaliknya. Pengenalan dalam kehidupan keseharian dalam waktu yang lama akan mengubah pengenalan kognitif menjadi pengenalan afektif sehingga seseorang sudah dikenali karakternya sebagai orang yang menawan hati maka kesejukan, keceriaan, ketenangan akan terasa dalam kebersamaan. Sebaliknya perasaan kehilangan dan kesepian akan muncul jika berpisah, dan jika masih harus menunggu, rasa rindu mendera hatinya. Proses psikologis itulah yang mengukir hati mereka berdua dalam keindahan perasaan, dan selanjutnya dalam diri masing-masing terbangun imajinasi masa depan yang penuh harapan.

Ilham Cinta
Perasaan Cinta juga bisa tumbuh melalui ilham, yang berarti adalah suatu gagasan yang tiba-tiba tertanam kuat di dalam hati. Ilham seperti ini bisa didahului oleh pertemuan, oleh pengenalan ide melalui bacaan, bisa juga oleh mimpi. Menurut sebuah tafsir Al-Qur’an, dulu zulaikha putri seorang gubernur Yaman akan dinikahkan dengan seorang pangeran, tetapi ia menolak karena ia bermimpi menikah dengan seorang menteri urusan pangan dari kerajaan fir’aun mesir. Singkatnya zulaikha dipertemukan dengan sang menteri, namun zulaikha sangat terkejut ketika ia dipertemukan dengan calon suaminya itu, karena orangnya berbeda dengan yang ia jumpai dalam mimpi. Menteri yang dijumpai dalam mimpinya itu ganteng dan masih muda, sementara menteri yang akan menikahinya itu duda tua. Sang menteri pun menikahi zulaikha, sang menteri syahdan, sudah sekian tahun belum juga dikaruniai putra, dalam perjalanan mereka berdua mendapati seorang anak bernama yusuf yang dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya. Zulaikha usul kepada suaminya agar budak itu dibeli saja. Perjalanan hidup selanjutnya, yusuf tumbuh sebagai remaja cakep dalam asuhan zulakiha. Birahi zulaikha terusik oleh sosok yusuf yang sangat menawan, apalagi suaminya sudah tua. Rayuan zulaikha tidak berhasil, tetapi menurut tafsir itu selanjutnya yusuf dijebloskan ke penjara demi menjaga nama baik martabat ibu menteri. Sekian tahun akhirnya kebenaran terbuka, zulaikha mengakui kesalahannya. Singkat cerita, suami zulaikha pun meninggal, raja mesir melihat yusuf memiliki kecerdasan yang luar biasa, maka dia pun dianggap menjadi menteri menggantikan ayah angkatnya, lanjut cerita, sesungguhnya yusuf juga mencintai zulaikha, maka akhirnya keduanya menikah. Setelah yusuf benar-benar menjadi suaminya, zulaikha berkata, inilah orang yang aku lihat dalam mimpi ku dulu sewaktu masih gadis, jadi Cinta zulaikha sudah diilhamkan sejak yusuf masih anak-anak dab belum dikenalinya.

Cinta yang Mapan

Cinta itu ada yang menghanyutkan, ada yang bergelora, tetapi ada juga Cinta yang mapan dan stabil. Cinta seperti ini lebih menonjolkan rasa simpati dan kasihan dibanding rasa ingin memiliki. Sebab-sebab terjadinya, biasanya karena faktor merasa berhutang budi, simpati atau kagum atas perjuangan seseorang. Cinta yang mapan lebih mengutamakan kepolosan, ikhlas, dan keluguan serta jauh dari kesan konotasi seksual. Cinta seperti ini bisa terjadi pada siapa saja dalam kondisi yang bagaimana, tergantung orang itu mengartikan perasaan yang datang padanya dalam persepsi yang ideal baginya. Proses psikologis yang mengawali Cinta ini adalah nilai-nilai keadilan ketika melihat orang yang kita cintai dicurangi atau disakiti oleh orang lain. Sehingga kita merasa bertanggung jawab dan merasakan ketidakadilan terhadap orang itu adalah karena kita tidak melakukan apa yang harusnya dilakukan walau secara nalar, tidak ada hubungannya dengan tindakan kita.
Baca Selengkapnya → Cinta dalam Perspektif Islam

Pendidikan Multibudaya

Dalam era kemajuan informasi dan teknologi, siswa semakin tertekan dan terintimidasi oleh perkembangan dunia akan tetapi belum tentu diimbangi dengan perkembangan karakter dan mental yang mantap. Seorang Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor mempunyai tugas yaitu membantu siswa untuk mengatasi permasalahan dan hambatan dan dalam perkembangan siswa. Setiap siswa sebenarnya mempunyai masalah dan sangat variatif. Permasalahan yang dihadapi siswa dapat bersifat pribadi, sosial, belajar, atau karier. Oleh karena keterbatasan kematangan siswa dalam mengenali dan memahami hambatan dan permasalahan yang dihadapi siswa, maka konselor sebagai pihak yang berkompeten perlu memberikan intervensi. Apabila siswa tidak mendapatkan intervensi, siswa mendapatkan permasalahan yang cukup berat untuk dipecahkan.


Konselor sekolah senantiasa diharapkan untuk mengetahui keadaan dan kondisi siswanya secara mendalam. Untuk mengetahui kondisi dan keadaan siswa banyak metode dan pendekatan yang dapat digunakan, salah satu metode yang dapat digunakan yaitu studi kasus (Case Study). Dalam perkembangannya, oleh karena kompleksitas permasalahan yang dihadapi siswa dan semakin majunya pengembangan teknik-teknik pendukung seperti hanya teknik pengumpulan data,teknik identifikasi masalah, analisis, interpretasi, dan treatment metode studi kasus terus diperbarui. Studi kasus akan mempermudah konselor sekolah untuk membantu memahami kondisi siswa seobyektif mungkin dan sangat mendalam. Membedah permasalahan dan hambatan yang dialami siswa sampai ke akar permasalahan, dan akhirnya konselor dapat menentukan skala prioritas penanganan dan pemecahan masalah bagi siswa tersebut.

PENDAHULUAN               
Bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku dan ras, yang mempunyai budaya, bahasa, nilai, dan agama atau keyakinan berbeda-beda. Bila bangsa ini ingin menjadi kuat dalam era demokrasi, diperlukan sikap saling menerima dan menghargai dari tiap orang yang beraneka ragam itu sehingga dapat saling membantu, bekerja sama membangun negara ini lebih baik. Perkembangan pembangunan nasional dalam era industrialisasi di Indonesia telah memunculkan side effect yang tidak dapat terhindarkan dalam masyarakat. Konglomerasi dan kapitalisasi dalam kenyataannya telah menumbuhkan bibit-bibit masalah yang ada dalam masyarakat seperti ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin, masalah pemilik modal dan pekerja, kemiskinan, perebutan sumber daya alam dan sebagainya. Di tambah lagi kondisi masyarakat Indonesia yang plural baik dari suku, agama, ras dan geografis memberikan kontribusi terhadap masalah-masalah sosial seperti ketimpangan sosial, konflik antar golongan, antar suku dan sebagainya.

Kondisi masyarakat Indonesia yang sangat plural baik dari aspek suku, ras, agama serta status sosial memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan dan dinamika dalam masyarakat. Kondisi yang demikian memungkinkan terjadinya benturan antar budaya, antar ras, etnik, agama dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Kasus Ambon, Sampit, konflik antara FPI dan kelompok Achmadiyah, dan sebagainya telah menyadarkan kepada kita bahwa kalau hal ini terus dibiarkan maka sangat memungkinkan untuk terciptanya disintegrasi bangsa, Untuk itu dipandang sangat penting memberikan pendidikan multikultural sebagai wacana baru dalam sistem pendidikan di Indonesia terutama agar peserta didik memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan masalah-masalah sosial yang berakar pada perbedaan karena suku, ras, agama dan tata nilai yang terjadi pada lingkungan masyarakatnya. Hal ini dapat diimplementasi baik pada substansi maupun model pembelajaran yang mengakui dan menghormati keanekaragaman budaya.

TEORI – TEORI TENTANG PENDIDIKAN MULTI BUDAYA
Banks (1993) telah mendiskripsikan evolusi pendidikan multibudaya dalam empat fase. Yang pertama, ada upaya untuk mempersatukan kajian-kajian etnis pada setiap kurikulum. Kedua, hal ini diikuti oleh pendidikan multietnis sebagai usaha untuk menerapkan persamaan pendidikan melalui reformasi keseluruhan sistem pendidikan. Yang ketiga, kelompok-kelompok marginal yang lain, seperti perempuan, orang cacat, homo dan lesbian, mulai menuntut perubahan-perubahan mendasar dalam lembaga pendidikan. Fase keempat perkembangan teori, riset dan praktek, perhatian pada hubungan antar-ras, kelamin, dan kelas telah menghasilkan tujuan bersama bagi kebanyakan ahli teoritisi, jika bukan para praktisi, dari pendidikan multibudaya. Nieto (1992) menyebutkan bahwa pendidikan multibudaya bertujuan untuk sebuah pendidikan yang bersifat anti rasis; yang memperhatikan ketrampilan-ketrampilan dan pengetahuan dasar bagi warga dunia; yang penting bagi semua murid; yang menembus seluruh aspek sistem pendidikan; mengembangkan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang memungkinkan murid bekerja bagi keadilan sosial; yang merupakan proses dimana pengajar dan murid bersama-sama mempelajari pentingnya variabel budaya bagi keberhasilan akademik; dan lain lain.

Bill Martin Dalam tulisannya yang berjudul Multiculturalism: Consumerist or Transformational?, Bill Martin menulis, bahwa keseluruhan isu tentang multikulturalisme memunculkan pertanyaan tentang "perbedaan" yang nampak sudah dilakukan berbagai teori filsafat atau teori sosial. Sebagai agenda sosial dan politik, jika multikulturalisme lebih dari sekedar tempat bernaung berbagai kelompok yang berbeda, maka harus benar-benar menjadi 'pertemuan' dari berbagai kelompok itu yang tujuannya untuk membawa pengaruh radikal bagi semua umat manusia lewat pembuatan perbedaan yang radikal (Martin, 1998: 128).

PRAKTEK PELAKSANAAN PENDIDIKAN MULTI BUDAYA
Agar pendidikan lebih multikultural, maka kurikulum, model pembelajaran, suasana sekolah, menyeragamkan dan menghilangkan perbedaan yang ada , dan peran guru harus dibuat multicultural serta peran keluarga yang sangat penting untuk pelaksanaan multi budaya. Isi, pendekatan, dan evaluasi kurikulum harus menghargai perbedaan dan tidak diskriminatif. Isi dan bahan ajar di sekolah perlu dipilih yang sungguh menekankan pengenalan dan penghargaan terhadap budaya dan nilai lain.Pertama Misalnya, dalam semua bidang pelajaran, dimasukkan nilai dan tokoh-tokoh dari budaya lain agar siswa mengerti bahwa dalam tiap budaya, ilmu itu dikembangkan. Contoh-contoh ilmuwan dan hasil teknologi, perlu diambil dari berbagai budaya dan latar belakang termasuk gender. Kesamaan dan perbedaan antarbudaya perlu dijelaskan dan dimengerti. Siswa dibantu untuk kian mengerti nilai budaya lain, menerima dan menghargainya. Misalnya, dalam mengajarkan makanan, pakaian, cara hidup, bukan hanya dijelaskan dari budayanya sendiri, tetapi juga yang lain.

**Kedua Model pembelajaran dalam kelas pun perlu diwarnai multikultural, yaitu dengan menggunakan berbagai pendekatan berbeda-beda. Penyajian bahan, termasuk matematika, dalam memberi contoh, guru perlu memilih yang beraneka nilai. Buku-buku yang ditulis dalam pelajaran pun perlu disusun untuk menghargai budaya lain dan penghargaan gender.

**Ketiga Suasana sekolah amat penting dalam penanaman nilai multibudaya. Sekolah harus dibangun dengan suasana yang menunjang penghargaan budaya lain. Relasi guru, karyawan, siswa yang berbeda budaya diatur dengan baik, ada saling penghargaan. Anak dari kelompok lain tidak ditolak tetapi dihargai.

**Keempat dengan menyeragamkan dan menghilangkan perbedaan yang ada, baik dari segi budaya, agama, nilai, dan lain-lain. Sikap saling menerima, menghargai nilai, budaya, keyakinan yang berbeda tidak otomatis akan berkembang sendiri. Apalagi karena dalam diri seseorang ada kecenderungan untuk mengharapkan orang lain menjadi seperti dirinya.

**Kelima Dengan sikap saling menerima dan menghargai akan cepat berkembang bila dilatihkan dan dididik pada generasi muda dalam sistem pendidikan nasional. Dengan pendidikan, sikap penghargaan terhadap perbedaan yang direncana baik, generasi muda dilatih dan disadarkan akan pentingnya penghargaan pada orang lain dan budaya lain bahkan melatihnya dalam hidup sehingga sewaktu mereka dewasa sudah mempunya sikap itu. Di sini pemerintah dan tiap sekolah perlu memikirkan model dan bentuk yang sesuai.

**Keenam lewat penanaman semangat multikulturalisme di sekolah-sekolah, akan menjadi medium pelatihan dan penyadaran bagi generasi muda untuk menerima perbedaan budaya, agama, ras, etnis dan kebutuhan di antara sesama dan mau hidup bersama secara damai. Agar proses ini berjalan sesuai harapan, maka seyogyanya kita mau menerima jika pendidikan multikultural disosialisasikan dan didiseminasikan melalui lembaga pendidikan, serta, jika mungkin, ditetapkan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan di berbagai jenjang baik di lembaga pendidikan pemerintah maupun swasta. Apalagi, paradigma multikultural secara implisit juga menjadi salah satu concern dari Pasal 4 UU N0. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal itu dijelaskan, bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.

PERAN GURU DAN KELUARGA DALAM PELAKSANAAN MULTI BUDAYA
Peran guru dalam pendidikan multikultur juga amat penting. Guru harus mengatur dan mengorganisir isi, proses, situasi, dan kegiatan sekolah secara multikultur, di mana tiap siswa dari berbagai suku, jender, ras, berkesempatan untuk mengembangkan dirinya dan saling menghargai perbedaan itu.

Guru perlu menekankan diversity dalam pembelajaran, antara lain dengan1) mendiskusikan sumbangan aneka budaya dan orang dari suku lain dalam hidup bersama sebagai bangsa; dan 2) mendiskusikan bahwa semua orang dari budaya apa pun ternyata juga menggunakan hasil kerja orang lain dari budaya lain. Dalam pengelompokan siswa di kelas mapun dalam kegiatan di luar kelas guru diharapkan memang melakukan keanekaan itu. Usaha untuk mengembangkan sikap penghargaan ini masih panjang, terlebih karena kadang ada kecurigaan terhadap budaya lain. Semoga kita makin mengusahakannya, meski banyak tantangan. Semoga bangsa ini kian kuat bekerja sama, bukan saling menghancurkan.

Didalam peran keluarga adalah peran yang sangat penting bagi pendidikan multi budaya karena Peran orangtua dalam menanamkan nilai-nilai yang lebih responsive multikultural dengan mengedepankan penghormatan dan pengakuan terhadap perbedaan yang ada di sekitar lingkungannya (agama, ras, golongan) terhadap anak atau anggota keluarga yang lain. Serta didalam keluarga, orang tua juga menanamkan dan memberi contoh perilaku agar kita bisa mencintai, menjaga ,memahami dan melestarikan rasa kebudayaan, ras, agama, bahasa yang beraneka ragam yang kita miliki.

PENTINGNYA PENDIDIKAN MULTI BUDAYA
Pada konteks ini dapat dikatakan, tujuan utama dari pendidikan multikultural adalah untuk menanamkan sikap simpati, respek, apresiasi, dan empati terhadap penganut agama dan budaya yang berbeda. Lebih jauh lagi, penganut agama dan budaya yang berbeda dapat belajar untuk melawan atau setidaknya tidak setuju dengan ketidak-toleranan (l’intorelable) seperti inkuisisi (pengadilan negara atas sah-tidaknya teologi atau ideologi), perang agama, diskriminasi, dan hegemoni budaya di tengah kultur monolitik dan uniformitas global.

Pendidikan multikulturalisme/multibudaya sangat bermanfaat untuk membangun kohesifitas, soliditas dan intimitas di antara keragamannya etnik, ras, agama, budaya dan kebutuhan di antara kita, dan juga memberi dorongan dan spirit bagi lembaga pendidikan nasional untuk mau menanamkan sikap kepada peserta didik untuk menghargai orang, budaya, agama, dan keyakinan lain. Harapannya, dengan implementasi pendidikan multikultural membantu siswa mengerti, menerima, dan menghargai orang dari suku, budaya, dan nilai berbeda. Untuk itu, anak didik perlu diajak melihat nilai budaya lain, sehingga mengerti secara dalam, dan akhirnya dapat menghargainya. Bukan dengan menyembunyikan budaya lain, atau menyeragamkan sebagai budaya nasional, sehingga budaya lokal hilang.
Baca Selengkapnya → Pendidikan Multibudaya

Jumat, 02 Agustus 2013

Teori Belajar Konstruktivisme

A. Pandangan Teori Belajar Konstruktivisme

Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.


Salah satu prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka. Tokoh yang berperan pada teori ini adalah Jean Piaget dan Vygotsky. Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti :

  1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
  2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
  3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
  4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
  5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
  6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar.


Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget yang merupakan bagian dari teori kognitif juga.

Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).

Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skema yang dimilikinya. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan rangsangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan tersebut (Suparno, 1996: 7).

Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Belajar merupakan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61).

Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. Pada teori ini konsekuensinya dalah siswa harus memiliki ketrampilan unutk menyesuaikan diri atau adaptasi secara tepat. Menurut C. Asri Budiningsih menjelaskan bahwa ada dua macam proses adaptasi yaitu adaptasi bersifat autoplastis, yaitu proses penyesuaian diri dengan cara mengubah diri sesuai suasana lingkungan, lalu adaptasi yang bersifat aloplastis yaitu adaptasi dengan mengubah situasi lingkungan sesuai dengan keinginan diri sendiri.

Berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut pandangan konstruktivisme, Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995: 222) mengajukan karakteristik sebagai berikut: (1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, (2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa, (3) pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal, (4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas, (5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber. Belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skema sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hirarkis (Hudoyo, 1998: 5).

Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang berlangsung secara interaktif antara faktor intern pada diri pebelajar dengan faktor ekstern atau lingkungan, sehingga melahirkan perubahan tingkah laku.

Berikut adalah tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual atau tahap perkembangan kognitif atau biasa juga disebut tahap perkembagan mental. Ruseffendi (1988: 133) mengemukakan; (1) perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya, setiap manusia akan mengalami urutan-urutan tersebut dan dengan urutan yang sama, (2) tahap-tahap tersebut didefinisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual dan (3) gerak melalui tahap-tahap tersebut dilengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).

Berbeda dengan kontruktivisme kognitif ala Piaget, konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang (Poedjiadi, 1999: 62). Dalam penjelasan lain Tanjung (1998: 7) mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.

Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam pendidikan anak (Poedjiadi, 1999: 63) adalah sebagai berikut: (1) tujuan pendidikan menurut teori belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi, (2) kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memcahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari dan (3) peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, dan teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.

B. Pembelajaran Menurut Teori Belajar Konstruktivisme

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu dan pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.

Sehubungan dengan hal di atas, Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.

Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.

Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.

Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996: 3) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, (3) strategi siswa lebih bernilai, dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.

Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler (1996: 20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif, (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru, (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa, (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Selain itu Slavin menyebutkan strategi-strategi belajar pada teori kontruktivisme adalah top-down processing( siswa belajar dimulai dengan masalah yang kompleks untuk dipecahkan, kemudian menemukan ketrampilan yang dibutuhkan, cooperative learning(strategi yang digunakan untuk proses belajar, agar siswa lebih mudah dalam menghadapi problem yang dihadapi dan generative learning(strategi yang menekankan pada integrasi yang aktif antara materi atau pengetahuan yang baru diperoleh dengan skemata.

Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.

Unsur Penting dalam Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis

Berdasarkan hasil analisis Akhmad Sudrajat terhadap sejumlah kriteria dan pendapat sejumlah ahli, Widodo, (2004) menyimpulkan tentang lima unsur penting dalam lingkungan pembelajaran yang konstruktivis, yaitu :

1. Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa
Kegiatan pembelajaran ditujukan untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Oleh karena itu pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknik-teknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa.

2. Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna
Segala kegiatan yang dilakukan di dalam pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga bermakna bagi siswa. Oleh karena itu minat, sikap, dan kebutuhan belajar siswa benar-benar dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang dan melakukan pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dari usaha-usaha untuk mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, penggunaan sumber daya dari kehidupan sehari-hari, dan juga penerapan konsep.

3. Adanya lingkungan sosial yang kondusif,
Siswa diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi secara produktif dengan sesama siswa maupun dengan guru. Selain itu juga ada kesempatan bagi siswa untuk bekerja dalam berbagai konteks sosial.

4. Adanya dorongan agar siswa bisa mandiri
Siswa didorong untuk bisa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Oleh karena itu siswa dilatih dan diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan mengatur kegiatan belajarnya.

5. Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah.
Sains bukan hanya produk (fakta, konsep, prinsip, teori), namun juga mencakup proses dan sikap. Oleh karena itu pembelajaran sains juga harus bisa melatih dan memperkenalkan siswa tentang “kehidupan” ilmuwan.

Pembelajaran konstruktivisme merupakan pembelajaran yang cukup baik dimana siswa dalam pembelajaran terjun langsung tidak hanya menerima pelajaran yang pasti seperti pembelajaran bihavioristik. Misalnya saja pada pelajaran pkn, tentang tolong menolong dan siswa di tugaskan untuk terjun langsung dan terlibat mengamati suatu lingkungan bagaimana sikap tolong menolong terbangun. Dan setelah itu guru memberi pengarahan yang lebih lanjut. Siswa lebih mamahami makna ketimbang konsep.

C.  Kesimpulan
Jadi teori kontruktivisme adalah sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget yang merupakan bagian dari teori kognitif juga. Piaget menegaskan bahwa penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori atau pengetahuan yang dibangun dari realitas lapangan. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya.
Baca Selengkapnya → Teori Belajar Konstruktivisme

Menemukan Kebahagiaan Hidup Di Dunia

KEBAHAGIAAN DALAM HIDUP DI DUNIA

Setiap manusia yang hidup di dunia, selalu menginginkan kebahagiaan. Setiap orang memiliki jenis kebahagiaan yang berbeda-beda, ada yang kebahagiaannya diukur dari berapa banyak hartanya, seberapa tinggi jabatan pekerjaannya, atau lain sebagainya dan Anda pun pasti memiliki indikator-indikator tersendiri dalam mengategorikan kehidupan yang bahagia. Jadi, apa hakikat kebahagiaan? Apakah ada kebahagiaan di dunia ini? Apa penyebab dan kondisinya? Apakah mungkin menwujudkannya? Apakah kebahagiaan itu sesaat atau mutlak.

Para Pemimpin

Sejatinya, apapun yang Anda inginkan dari kehidupan di dunia ini semua itu pada dasarnya ada pada diri Anda. Keinginan-keinginan yang ada pada diri Anda saat ini adalah hasil dari pilihan-pilihan Anda dalam memposisikan kebahagiaan bagi diri Anda. Contohnya; seseorang merasa puas dan bangga telah memiliki rumah dengan hasil usahanya sendiri, namun Anda pribadi mungkin belum tentu puas hanya karena memiliki rumah, mungkin Anda masih menginginkan mobil sendiri, perabotan-perabotan, atau lain sebagainya.

Mengapa seperti itu, pernahkah kita menyadarinya.? Jadi, kita boleh bersimpulan bahwa kebahagiaan itu banyak dan setiap orang memiliki standar dan kepuasan sendiri-sendiri. Benarkah seperti itu.? seandainya kita berasumsi bahwa tidak ada kategori khusus yang mengatur standar dan syarat kebahagiaan manusia, berarti wajarlah realitas yang terdapat dalam kehidupan ini. Sekarang kita bisa melihat begitu banyaknya perilaku dan tindakan kriminal, asusila, anomali, apatis, dan lain sebagainya. Sekilas kalau kita melihat secara seksama, mungkin tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan pada diri Anda, namun coba sama-sama kita renungkan karena kita menganggap bahwa kebahagiaan itu ada banyak, jadi pastinya semua aspek-aspek lain keluar pula dari batasannya. Contoh gambarannya seperti ini; Anda berasumsi bahwa indikator kebahagiaan itu ada pada masing-masing individu, jadi hal-hal yang lain seperti kebenaran, kejahatan, kebaikan, keburukan, dan sifat-sifat yang lainnya mungkin saja indikatornya sesuai asumsi masing-masing orang. Bisa Anda bayangkan kalau keadaannya kehidupan seperti itu, apa yang akan terjadi.??.

Pada dasarnya manusia itu memiliki kemampuan ‘membedakan’ dan selalu berusaha mencari kebenaran dalam setiap aspek dari kehidupannya. Mungkin Anda bisa dengan mudah membedakan mana sifat-sifat yang baik dan mana sifat-sifat yang buruk dengan menggunakan aqal, namun bisa saja Anda masih sulit membedakan mana sifat-sifat yang pasti benar dan mana sifat-sifat yang pasti salah karena untuk membedakan hal tersebut tidak hanya membutuhkan aqal, namun juga memerlukan suatu ‘dalil’ atau dasar yang betul-betul absolut dan mutlak. Contohnya seperti ini: “secara empirik dan teruji kebenarannya bahwa pada dasarnya manusia itu memiliki kepribadian dan kepribadian-kepribadian itu tidak ada yang sama persis pada tiap-tiap orang.” Pernyataan tersebut adalah suatu contoh yang disebut dengan ‘dalil’ atau konsep (dasar) dalam menyatakan kepribadian manusia. Masalahnya adalah, apakah benar dalil itu.? apakah mutlak kebenaran dari konsep tersebut.? Jawabnya adalah “belum tentu”, mengapa belum tentu.? Karena secara mutlak, konsep tersebut belum bisa sepenuhnya di ukur dan belum bisa sepenuhnya digeneralisasi operasionalnya. Jadi, bagaimana yang disebut itu ‘dalil’ apakah tidak ada yang benar-benar mutlak di dunia ini?.

Dari penjelasan singkat ini, mungkin kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kehidupan dunia ini tidak ada yang mutlak dalam hal asumsif. Semuanya relatif, namun bukan berarti tidak ada yang mutlak dalam artian benar-benar pasti ada dalam kehidupan ini. Bahkan untuk memastikan kebenaran yang pasti benar itu, Anda wajib memilih untuk mempercayainya atau tidak mempercayainya bahwa ada ‘dzat’ yang benar-benar mutlak. Dzat itu mutlak ada, mutlak berbeda, dan mutlak menguasai seluruh semesta hingga alam pikiran kita (manusia). Apakah dzat itu, saya rasa Anda paham apa yang dimaksudkan.

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah : 147).

Kembali kepada bahasan tentang kategori kebahagiaan itu, Anda boleh mempercayainya atau tidak bahwa kebahagiaan merupakan pencarian dan tujuan. Meski pemahaman kebanyakan manusia belum mengristalkan pada satu arti nama (kata). Namun, sebagian orang mengartikan kebahagiaan sebagai; ketenangan dan kenyamanan. Selain itu, dalam setiap pemahaman manusia telah terbayang arti kebahagiaan dengan segala definisinya.

Meski ada perdebatan mengenai inti kebahagiaan, sebagian orang mengingkarinya, dengan anggapan bahwa dunia adalah tempat yang penuh malapetaka dan penderitaan. Sedangkan sebagian lain mencitrakan kebahagiaan sebagai keadaan sesaat. Banyak manusia yang mencari sebab kebahagiaan melalui kemewahan, pangkat, kemuliaan, kepemimpinan, kekuatan, kecantikan, kedamaian, mewujudkan cita-cita, mencapai berbagai target, kesehatan, keberanian, kelezatan, hobi, kemasyuran, dan bahkan ketika Anda membaca ulasan ini, sebenarnya Anda berusaha untuk memastikannya.

Sebagian orang menyatakan bahwa kebahagiaan hanyalah kata-kata yang tidak ada kenyataannya. Orang-orang yang menganggap kebahagiaan itu ada, mereka hanyalah berfantasi dan mendustai realitas, nampak sekali mereka ini bodoh dan berkhianat. Karena mereka tidak dapat berfikir bahwa Tuhan telah menciptakan kita pada alam semesta yang luas ini dengan berbagai kebaikan, kenikmatan, dan berkah.

Dalam ajaran Islam dikatakan apabila manusia lalai memandang dirinya, niscaya dia akan menemukan dirinya itu terbentuk dari; tubuh yang kepentingannya hanyalah makan, minum, dan tambahan asupan tanpa batas; jiwa yang kepentingannya hanya untuk bersenang-senang dalam dosa dan kedurhakaan; hati yang selalu terguncang dengan kecemasan dan kesedihan; lidah yang selalu berbicara hal yang sia-sia yang melukai dan tidak dapat disembuhkan.

Seorang tokoh yang bernama ‘Tsabit bin Qarrah’ mengemukakan jalan yang dapat mencapai kebahagiaan. Ia berkata untuk mencapai kebahagiaan dibutuhkan, “ketenangan tubuh dalam sedikit makanan, ketenangan jiwa dalam sedikitnya dosa, ketenangan hati dalam sedikit kesedihan, dan ketenangan lidah dalam sedikit berbicara.

Ketenangan Tubuh dalam Sedikit Makanan. Tubuh hanyalah sebuah alat yang bahan bakarnya adalah makanan. Sesuai konsepnya bahwa bahan bakar yang wajib diberikan kepada tubuh adalah bahan bakar yang sesuai dengan porsinya. Apabila ditambahi atau dikurangi maka alat tersebut dapat diluar kendali kita dan menimbulkan malapetaka. Jadi, langkah awal mencapai kebahagiaan adalah “makan untuk hidup” bukan hidup untuk makan.

Ketenangan Jiwa dalam Sedikit Dosa. Jiwa adalah wujud yang wajib manusia kuasai, musuh utama jiwa adalah hawa nafsu, ibarat sebuah kuda, kuda itu harus dijinakkan oleh kita untuk bisa dikendalikan diperintah oleh diri (jiwa). Jiwa yang mampu Anda kuasai akan menghindarkan anda dari perbuatan keji (dosa) dan melampaui batas, senjata Anda untuk mengikat jiwa Anda adalah dengan iman dan taqwa, serta membatasi antara jiwa dan hawa nafsu. “singkirkan hawa nafsumu dan waspadalah, karena ia dapat mengendalikanmu, jika hawa nafsu mengendalikanmu, sungguh celakalah kamu”.

Ketenangan Hati dalam Sedikit Kesedihan. Hati adalah jantung perasaan dari manusia, seperti halnya jantung yang sangat penting bagi fisik, hati juga sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia secara ruhani. Menjaga hati dari kesedihan, kedukaan, kesakitan, dan penderitaan secara tidak langsung Anda telah memasuki tahap kebahagiaan di dunia. Menjaga hati dari racun dan penyakit hati dapat menumbuhkan sikap puas diri dan selalu siap menghadapi tantangan, mental Anda akan kebal dari ketakutan dan ketidakmampuan terhadap materi apa pun di dunia ini.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ketenangan Lidah dalam Sedikit Berbicara. Lidah adalah gambaran utuh seorang manusia, dikatakan bahwa seseorang itu dinilai oleh orang lain berdasarkan apa yang dia lisankan (katakan). Seorang bijak pernah ditanya, “kapan seorang pria menjadi kuat?” ia menjawab, “ketika lidahnya ingin mengucapkan kata-kata yang tidak bijaksana, tapi ia menahannya dengan segenap kekuatan dan kemampuannya.”

Ini adalah jalan kebahagiaan menurut perspektif agama, yaitu ketika tubuh dapat dicegah dari makan yang berlebihan, jiwa dapat dicegah dari perbuatan keji (dosa), hati dapat dicegah dari kesedihan dan kecemasan yang berat, sedangkan lidah dapat dicegah dari ucapan yang sia-sia, niscaya Anda akan lurus dan menjadi orang yang benar-benar bahagia.

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa ada kebahagiaan yang benar-benar haq’ dalam dunia kita. Ketika Anda mampu bijaksana dalam memahami dan menjalani hidup, pandangan Anda terhadap dunia akan terjungkir balik ke arah kebahagiaan di dunia. Sebagaimana Socrates menyatakan bahwa :

“Berapa kali kecantikan memakan korban karena menjadi penggoda yang tidak tahu malu. Berapa kali kekuatan menipu manusia, hingga mereka binasa di jalan-jalan, tanpa daya untuk menahannya, tubuhnya yang fana menderita. Betapa banyak pribadi yang mendapat kekayaan dan kelapangan, tapi justru bahaya besar menghancurkan angan-angan kenikmatannya. Betapa banyak pribadi yang namanya terdengar dan dikenal oleh semua orang, yang mulia, tapi kemuliaan dan kepercayaan manusia kepada mereka justru menjadi faktor kehancuran mereka.”

Jika demikian, kebahagiaan bukanlah bersumber dari suatu sisi materi, tapi lebih mengarah kepada pengondisian jiwa yang terwujud pada pengendalian (kebijaksanaan) keinginan diri, hingga Anda tidak keluar dari batas kemampuan yang Anda miliki. Socrates memisalkan hal itu pada jiwanya dengan batasan yang jauh, ia membatasi keinginan-keinginannya dan memegang kendali jiwanya. Suatu ketika, Socrates pernah dihina karena memandang kebahagiaan bagi dirinya yang pada zamannya, kebahagiaan itu ditentukan oleh kekayaan dan kejayaan, namun jawaban Socrates pada masa itu tidak dapat dibantah sepenuhnya oleh para bangsawan pada zamannya :

“Aku tidak merasa terhalangi terhadap sesuatu yang aku inginkan. Mengapa Anda melecehkan makananku? Apakah itu lebih buruk dari makananmu dari sisi kesehatan atau dari sisi gizinya? Apakah karena sulit mendapatkannya? Apakah karena langka? Apakah karena terlalu mahal? Apakah Anda tidak tahu, bahwa selera tidak membutuhkan bumbu? Bukankah orang yang minum dengan lezat tidak dapat memikirkan jenis-jenis minuman yang ia tidak bisa mendapatkannya? Apakah Anda menganggap aku terus-menerus berada di rumah karena kedinginan? Atau untuk berteduh dari teriknya matahari? Atau aku tidak mampu pergi kemana yang aku inginkan karena luka di kakiku?”

Jika demikian arti kebahagiaan menurut pandangan Socrates berasal dari puas diri (Qana’ah), namun puas diri menurutnya bukan berarti lemah, ia banyak menghimbau untuk selalu aktif dan bekerja. Ia memandang bahwa kemalasan akan menjauhkan manusia dari kebahagiaan, yang juga akan menjauhkannya dari akhlak yang mulia.

“Wahai yang Maha membolak-balikkan Hati, teguhkan hatiku pada agama-Mu.” (HR. Ahmad)


Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan kita bersama, billahi fii sabilil haq’ fastabiqul khairat, wabillahi taufiq walhidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh...!
Baca Selengkapnya → Menemukan Kebahagiaan Hidup Di Dunia