SAATNYA DAN SELAYAKNYA ANDA MENGETAHUI

Senin, 26 November 2012

Psikologi Dalam Agama : Metode & Kejiwaan Keagamaan

A.     Pengertian Psikologi Agama
     Psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi dan agama. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab (Jalaluddin, et al 1979:77). Menurut Robert H. Thouless (1992:3), psikologi sekarang dipergunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia.
      Agama adalah sebagai bentuk keyakinan, walau sulit didefinisikan dengan tulisan, secara definitif menurut Harun Nasution, agama adalah :
1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.
2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
3.  Mengikat diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
4.   Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
5.   Suatu sistem tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari sesuatu kekuatan gaib di luar kemampuan manusia.
6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan gaib.
7.  Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
8. Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul (Harun Nasution:10).
     
    Selanjutnya Harun Nasution merumuskan empat unsur yang terdapat dalam agama, yaitu :
a.  Kekuatan gaib, yang diyakini berada di atas kekuatan manusia. Di dorong oleh kelemahan dan keterbatasannya, manusia merasa berhajat akan pertolongan dengan cara menjaga dan membina hubungan baik dengan kekuatan gaib tersebut. Sebagai realisasinya adalah sikap patuh terhadap perintah dan larangan kekuatan gaib tersebut.
b. Keyakinan terhadap kekuatan gaib sebagai penentu nasib baik dan nasib buruk manusia. Dengan demikian manusia berusaha untuk menjaga hubungan baik ini agar kesejahteraan dan kebahagiaannya terpelihara.
c. Respons yang bersifat emosional dari manusia. Respons ini dalam realisasinya terlihat dalam bentuk penyembahan karena di dorong oleh perasaan takut (agama primitif) atau pemujaan oleh manusia yang di dorong oleh perasaan cinta (monoteisme), serta bentuk cara hidup tertentu bagi penganutnya.
d.  Paham akan adanya yang kudus (sacred) dan suci. Sesuatu yang kudus dan suci ini adakalanya berupa kekuatan gaib, kitab yang berisi ajaran agama, maupun tempat-tempat tertentu (Harun Nasution:11).
     
    Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat (1970:11), psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Di samping itu, psikologi agama juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.
     Psikologi agama dengan demikian merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi. Jadi penelaahan tersebut merupakan kajian empiris.

B.     Metode-Metode dalam Psikologi Agama
     Psikologi agama memiliki metode penelitian ilmiah, namun karena agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangat mendalam, maka masalah agama sulit untuk diteliti secara seksama, terlepas dari pengaruh-pengaruh subjektivitas.
     Dalam meneliti ilmu jiwa agama menggunakan sejumlah metode, antara lain sebagai berikut :
1.    Dokumen Pribadi (Personal Document)
Metode ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Mengumpulkan informasi tentang seseorang berupa autobiografi, biografi, tulisan ataupun catatan-catatan yang dibuatnya. Selain itu juga digunakan daftar pertanyaan kepada orang-orang yang akan diteliti.
Dalam penerapannya, metode dokumen pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara atau teknik-teknik tertentu. Di antara yang banyak digunakan adalah :
a.    Teknik Nomotatik
Nomotatik merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami tabiat atau sifat-sifat dasar manusia dengan cara mencoba menetapkan ketentuan umum dari hubungan antara sikap dan kondisi-kondisi yang dianggap sebagai penyebab terjadinya sikap tersebut. Pendekatan ini digunakan untuk mempelajari perbedaan-perbedaan individu, individu memiliki sifat dasar yang secara umum sama, perbedaan masing-masing hanya dalam derajat atau tingkatan saja.
Nomotatik yang digunakan dalam studi tentang kepribadian adalah mengukur perangkat sifat seperti, kejujuran, ketekunan, dan kepasrahan sejumlah individu dalam suatu kelompok. Sikap individu tergantung dari situasi yang dihadapinya, namun dalam sikap yang ditampilkan terlihat adanya sifat-sifat dasar manusia secara umum.
Nomotatik membantu dalam penelitian psikologi agama, antara lain untuk melihat sejauh mana hubungan sifat dasar manusia dengan sikap keagamaan yang dimilikinya.
b.    Teknik Analisis Nilai (Value Analysis)
Teknik ini digunakan dengan dukungan analisis statistik, data yang terkumpul diklasifikasikan menurut teknik statistik dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti. Teknik statistik digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa ada sejumlah pengalaman keagamaan yang dapat dibahas dengan menggunakan bantuan ilmu eksakta, terutama dalam mencari hubungan antara sejumlah variabel.
c.     Teknik Idiography
Merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami sifat-sifat dasar manusia yang dipusatkan pada hubungan antara sifat dasar manusia dengan keadaan tertentu dan aspek-aspek kepribadian yang menjadi ciri khas masing-masing individu dalam upaya untuk memahami seseorang. Ideografi sebagai pelengkap dari teknik nomotatik untuk mempelajari sifat-sifat dasar manusia secara individu yang berada dalam satu kelompok.
d.    Teknik Penilaian terhadap Sikap (Evaluation Attitudes Technique)
Teknik ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi, tulisan atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti. Berdasarkan dokumen tersebut, kemudian ditarik kesimpulan, bagaimana pendirian seseorang terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan pengalaman dan kesadaran agama.

2.    Kuesioner dan Wawancara
Metode kuesioner maupun wawancara digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang lebih banyak dan mendalam secara langsung kepada responden. Kelebihan-kelebihan metode ini adalah, yaitu :
a. Dapat memberikan kemungkinan untuk memperoleh jawaban yang cepat dan segera.
b. Hasilnya dapat dijadikan dokumen pribadi tentang seseorang serta dapat pula dijadikan data nomotatik.
Dalam penerapannya, metode kuesioner dan wawancara dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti berikut ini :
a)  Pengumpulan Pendapat Masyarakat (Public Opinion Polls). Cara mendapatkan data melalui pengumpulan pendapat masyarakat, data tersebut selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi yang sudah dibuat berdasarkan kepentingan penelitian.
b) Skala Penilaian (Rating Scale). Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok.
c)  Tes (Test). Digunakan dalam upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu dan bentuk tes sudah disusun secara sistematis.
d) Eksperimen. Digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat.
e) Observasi melalui Pendekatan Sosiologi dan Antropologi (Sociological and Anthropological Observation). Dilakukan dengan menggunakan data sosiologi dengan mempelajari sifat-sifat manusiawi perorangan atau kelompok, unsur-unsur budaya dan benda spiritual yang dinilai ada hubungan dengan agama.
f)   Studi Agama berdasarkan Pendekatan Antropologi Budaya. Digunakan dengan membandingkan antara tindak keagamaan dengan menggunakan pendekatan psikologi untuk mengetahui tolak ukur suatu kebudayaan dengan pendekatan psikologi.
g)  Pendekatan terhadap Perkembangan (Development Approach). Digunakan untuk meneliti mengenai asal-usul dan perkembangan aspek psikologi manusia dalam hubungannya dengan agama yang dianutnya.
h) Metode Klinis dan Proyektivitas (Clinical Method and Projectivity Technique). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pengamatan terhadap seseorang untuk usaha penyembuhan secara klinis. Penyembuhan dilakukan dengan cara menyelaraskan hubungan antara jiwa dengan agama.
i) Metode Umum Proyektivitas. Penelitian dengan cara menyadarkan sejumlah masalah yang mengandung makna tertentu. Peneliti memperhatikan reaksi yang muncul dari responden untuk menafsirkan gejala-gejala yang diteliti.
j) Apersepsi Nomotatik (Nomothatic Apperception). Pemberian gambaran dan bentuk samar kepada seseorang yang diharapkan dapat membantu seseorang tersebut membentuk ide baru yang dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi penelitian.
k) Studi Kasus (Case Study). Dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen, catatan, hasil wawancara atau lainnya untuk kasus-kasus tertentu. Metode ini dapat digunakan sebagai bahan penyembuhan, menanamkan pengertian, menggambarkan masalah yang berhubungan dengan psikologi, hingga penggolongan dan penyimpulan mengenai kasus-kasus tertentu.
l)  Survei. Digunakan untuk penelitian sosial, metode ini dapat digunakan untuk tujuan penggolongan manusia dalam hubungannya dengan pembentukan organisasi dalam masyarakat.

Metode kuesioner wawancara dengan berbagai tekniknya seperti dikemukakan di atas, biasanya digunakan untuk tujuan-tujuan seperti :
1)  Untuk mengetahui latar belakang keyakinan agama.
2)  Untuk mengetahui bentuk hubungan manusia dengan Tuhannya.
3)  Untuk mengetahui dampak dari perubahan-perubahan yang terjadi.
   
   Penggunaan metode-metode dalam penelitian psikologi agama sebenarnya dapat dilakukan dengan beragam, tergantung kepada kepentingan dan jenis data yang akan dikumpulkan. Dengan banyaknya metode yang mungkin digunakan, terlihat bahwa metode yang dipakai dalam penelitian psikologi agama tidak berbeda dengan metode yang dipakai dalam penelitian ilmiah dalam cabang ilmu pengetahuan lain.

C.      Teori Tentang Sumber Kejiwaan Agama
     Pada dasarnya kebutuhan manusia bukan hanya sekedar kebutuhan jasmaniah, namun kebutuhan rohaniah sangat besar dan berpengaruh dalam kehidupan manusia. Manusia ingin mengabdikan dirinya kepada Tuhan atau sesuatu yang dianggapnya sebagai zat yang mempunyai kekuasaan tertinggi. Berikut beberapa teori yang mengangkat sumber kejiwaan agama antara lain :
1.    Teori Monistik
Teori monistik berpendapat bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah satu sumber kejiwaan, beberapa pendapat yang dikemukakan oleh :
a.   Thomas van Aquino. Pendapatnya bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama itu adalah berpikir. Manusia ber-Tuhan karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya, kehidupan beragama merupakan refleksi dari kehidupan berpikir manusia itu sendiri.
b.   Frederick Hegel. Pendapatnya bahwa agama adalah suatu pengetahuan yang sungguh-sungguh benar dan tempat kebenaran abadi, agama semata-mata merupakan hal-hal atau persoalan yang berhubungan dengan pikiran.
c.    Frederick Schleimacher. Pendapatnya bahwa yang menjadi sumber keagamaan itu adalah rasa ketergantungan yang mutlak, dengan adanya rasa tersebut itu manusia merasakan dirinya lemah. Kelemahan ini menyebabkan manusia selalu tergantung hidupnya dengan suatu kekuasaan yang berada di luar dirinya dan yang paling kuasa tertinggi.
d.   Rudolf Otto. Menurutnya bahwa sumber kejiwaan agama adalah rasa kagum yang berasal dari “hal yang lain sekali”. Perasaan semacam itulah yang menimbulkan rasa keagamaan sebagai sumber dari kejiwaan agama pada manusia, ­nominous adalah sumber kejiwaan yang esensial.
e.   Sigmund Freud. Pendapatnya bahwa unsur kejiwaan yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah ­libido sexuil (naluri seksual). Dari libido itu timbullah ide tentang ke-Tuhanan dan upacara keagamaan setelah melalui proses karena rasa bersalah dan dosa.
1)  Oedipoes Complex, yakni mitos Yunani kuno yang menceritakan bahwa karena perasaan cinta kepada ibunya, maka oedipoes membunuh ayahnya. Setelah ayah mereka mati, maka timbullah rasa bersalah (sense of guilt) pada diri anak-anak tersebut.
2)  Father Image (citra bapak), setelah pembunuhan ayah mereka tersebut, mereka terus dihantui rasa bersalah. Dari rasa bersalah inilah timbul suatu cara untuk menebus kesalahan mereka dengan cara memuja arwah tersebut, sehingga menimbulkan kebiasaan pemujaan dan penuhanan.
Jadi, menurut Freud agama muncul dari ilusi (khayalan) manusia.
f.    William Mac Dougall. Pendapatnya bahwa sumber kejiwaan agama merupakan kumpulan dari beberapa instink. Pada diri manusia terdapat 14 macam instink, maka agama muncul dari dorongan instink secara terintegrasi.
2.    Teori Fakulti
Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu tidak bersumber pada suatu faktor tunggal tetapi terdiri atas beberapa unsur, antara lain :
a.    Cipta (Reason), merupakan fungsi intelektual jiwa manusia.
b.    Rasa (Emotion), suatu tenaga dalam jiwa manusia untuk menunjang cipta.
c.     Karsa (Will), merupakan fungsi eksekutif dalam jiwa manusia.
Ketiga hal tersebut berfungsi, antara lain :
1)  Cipta (reason) berperan untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran agama berdasarkan pertimbangan intelek seseorang.
2)  Rasa (emotion) menimbulkan sikap batin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.
3)  Karsa (will) menimbulkan amalan-amalan atau doktrin keagamaan yang benar dan logis.
Beberapa pemuka teori fakulti :
a.   G.M. Straton. Pendapatnya tentang teori “konflik”, bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah adanya konflik dalam kejiwaan manusia. Seperti Sigmund Freud berpendapat, bahwa dalam setiap organis terdapat dua konflik kejiwaan yang mendasar, yaitu :
1)  Life-urge ; ialah keinginan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dari keadaan yang terdahulu agar terus berlanjut.
2)  Death-urge ; ialah keinginan untuk kembali pada keadaan semula sebagai benda mati (anorganis).
Selanjutnya, G.M. Straton berpendapat, konflik yang positif tergantung atas adanya dorongan pokok yang merupakan dorongan dasar (basic-urge), sebagai keadaan timbulnya konflik tersebut.
b.   Zakiah Daradjat. Pendapatnya bahwa pada diri manusia itu terdapat kebutuhan pokok selain jasmani dan rohani, manusia pun membutuhkan keseimbangan dalam kehidupan jiwanya agar tidak mengalami tekanan.
Unsur-unsur kebutuhan yang dikemukakan yaitu :
1)  Kebutuhan akan rasa kasih sayang, adalah kebutuhan yang menyebabkan manusia mendambakan rasa kasih.
2)  Kebutuhan akan rasa aman, merupakan kebutuhan yang mendorong manusia mengharapkan adanya perlindungan.
3)  Kebutuhan akan rasa harga diri, adalah kebutuhan yang bersifat individual yang mendorong manusia agar dirinya dihormati dan diakui oleh orang lain.
4)  Kebutuhan akan rasa bebas, adalah kebutuhan yang menyebabkan seseorang bertindak secara bebas untuk mencapai kondisi da situasi rasa lega.
5)  Kebutuhan akan rasa sukses, merupakan kebutuhan manusia yang menyebabkan ia mendambakan rasa keinginan untuk dibina dalam bentuk penghargaan terhadap hasil karyanya.
6)  Kebutuhan akan rasa ingin tahu (mengenal), adalah kebutuhan yang menyebabkan manusia selalu meneliti dan menyelidiki sesuatu.
Menurut Dr. Zakiah Daradjat, gabungan dari keenam macam kebutuhan tersebut menyebabkan orang memerlukan agama. Dengan melaksanakan ajaran agama secara baik, maka kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman, rasa harga diri, rasa bebas, rasa sukses, dan rasa ingin tahu akan terpenuhi.
c.    W.H. Thomas. Melalui teori The Four Wishes-nya ia mengemukakah, bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah empat macam keinginan dasar yang ada dalam jiwa manusia, yaitu :
1)   Keinginan untuk keselamatan (security). Keinginan ini untuk memperoleh perlindungan atau penyelamatan dirinya baik berbentuk biologis maupun non-biologis.
2)   Keinginan untuk mendapatkan penghargaan (recognation). Keinginan ini merupakan dorongan yang menyebabkan manusia mendambakan adanya rasa ingin dihargai dan dikenal orang lain.
3)   Keinginan untuk ditanggapi (response). Keinginan ini menimbulkan rasa ingin mencinta dan di cinta dalam pergaulan.
4)   Keinginan akan pengetahuan atau pengalaman baru (new experience).  Keinginan ini menyebabkan manusia mengeksplorasi dirinya untuk mengenal sekelilingnya dan mengembangkan dirinya.

Didasarkan atas keempat keinginan dasar itulah pada umumnya manusia menganut agama menurut W.H. Thomas. Melalui ajaran agama yang teratur, maka keempat keinginan dasar itu akan tersalurkan. Dengan menyembah dan mengabdikan diri kepada Tuhan, keinginan untuk keselamatan akan terpenuhi.
Baca Selengkapnya → Psikologi Dalam Agama : Metode & Kejiwaan Keagamaan

Kamis, 22 November 2012

Pengertian Bimbingan Konseling Islam


Tinjauan Filsafat Ilmu

Perkembangan model-model relasi yang terjadi dalam aktivitas interaksi manusia sudah berkembang ke arah bentuk hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan dan membutuhkan. Hubungan timbal-balik seperti itu disebut the helping relationship dalam disiplin konseling. Dalam realitas, tidak ada satu orang pun yang mampu hidup di dunia ini secara mandiri tanpa memerlukan uluran tangan dan bantuan dari sesama manusia. Life is probelem, no life without problems, artinya bahwa sepanjang manusia diberi kehidupan, maka sepanjang itu pula berbagai masalah akan bermunculan yang harus dihadapi dan diselesaikan.

Ironisnya, fakta menunjukkan bahwa tidak setiap manusia memiliki cukup kemampuan dan keahlian dalam mencari solusi yang tepat dan terbaik, untuk mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi (ketidakmampuan). Manusia memiliki keterbatasan kemampuan, sehingga tidak mungkin mampu mengatasi setiap permasalahan yang menimpanya dengan mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. Salah satu permasalahan yang sering dihadapi manusia adalah masalah gangguan kesehatan mental (mental disolder).

Bantuan terhadap masalah kesulitan gangguan kesehatan mental dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu, Konseling dan Psikoterapi. Istilah Konseling sering digunakan untuk menunjukkan proses bantuan di mana klien yang dibantu diberi kesempatan untuk mengeksplorasi diri yang bisa mengarah pada terjadinya peningkatan kesadaran dan kemungkinan memilih. Proses konseling sering kali berjangka pendek, difokuskan pada masalah-masalah tertentu, dan membantu individu (klien) dalam menyingkirkan hal-hal yang menghambat pertumbuhannya. Sedangkan istilah Psikoterapi sering kali difokuskan pada proses-proses tak sadar serta lebih banyak berurusan dengan pengubahan struktur kepribadian. Proses psikoterapi dilaksanakan lebih ke arah pemahaman diri secara intensif, membutuhkan waktu yang lama, tentang dinamika-dinamika yang bertanggung jawab atas terjadinya krisis-krisis kehidupan pada diri individu (klien).

Secara filosofis menurut Jujun S. Suriasumantri, tiga hal yang perlu dipertanyakan terkait dengan keberadaan sebuah disiplin keilmuan yaitu, landasan ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis.
1.      Landasan Ontologis, keilmuan untuk mengkaji hakikat dasar suatu ilmu.
2.      Landasan Epistemologis, keilmuan untuk mengkaji cara mendapatkan ilmu tersebut dan hubungan suatu ilmu tersebut dengan ilmu yang lainnya.
3.   Landasan Aksiologis, keilmuan untuk mengkaji nilai kegunaan dan manfaat suatu ilmu bagi kehidupan manusia.

Walau secara filosofis serta kontekstual istilah “Bimbingan dan Konseling Islam” belum begitu jelas landasan-landasannya, namun dalam semangat Islamisasi Ilmu sudah cukup menjadi acuan penting dalam pengukuhan ilmu tersebut. Sesuatu yang pasti adalah bahwa eksistensi “bimbingan dan konseling islam” masih dalam taraf on going process dan on going information.

Formulasi Identitas Ontologis Keilmuan

Semangat Islamisasi Ilmu telah menciptakan label “Islam” terhadap berbagai disiplin keilmuan, salah satunya disiplin Bimbingan dan Konseling. Istilah “bimbingan dan konseling Islam” didefinisikan oleh para ahli sebagai “Bimbingan Islami” berikut uraiannya :

Pertama, Thohari Musnamar mengartikan istilah “bimbingan islami” sebagai proses pemberian bantuan terhadap individu agar mampu hidup selaras dengan ketentuan Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kedua, menurut Hallen A., istilah “bimbingan islami” berarti proses pemberian bantuan yang terarah dan berkelanjutan serta sistematis kepada setiap individu, agar dia dapat mengembangkan fitrah agama yang dimilikinya secara optimal, dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam al-qur’an nur karim dan sunnah Rasulullah.

Ketiga, menurut Aunur Rahim Faqih, istilah “bimbingan islami” diartikan sebagai proses pemberian bantuan terhadap individu agar mampu hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Begitu pula istilah “Konseling Islami”, menurut Thohari Musnamar, istilah tersebut diartikan sebagai proses pemberian bantuan terhadap individu kepada eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga individu (klien) dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Menurut Hamdani Bakran adz-Dzaky, istilah “konseling islami” sebagai suatu aktivitas memberikan bimbingan, pelajaran, dan pedoman kepada individu yang meminta bimbingan (klien) dalam hal bagaimana seharusnya dirinya dapat mengembangkan potensi akal pikiran, jiwa, keimanan, dan keyakinannya, serta dapat menanggulangi hidup dengan lebih baik dan benar secara mandiri yang berparadigma kepada al-qur’an as-sunnah Rasulullah SAW.

Dari beberapa pengertian tersebut, jelas bahwa perbedaan antara istilah “Bimbingan Islami” dan “Konseling Islami” tidak terlalu berarti dan cenderung mirip dan sama-sama terkait dengan aktivitas yang arah kegiatannya dimaksudkan untuk membantu individu muslim agar menyadari eksistensinya sebagai makhluk beragama yang harus senantiasa berpegangan pada nilai-nilai agama yang diyakini, serta menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber kekuatan moral bagi pelaksanaan aktivitas bimbingan dan konseling.

Pembeda antara “Bimbingan Konseling Islam” dengan “Bimbingan Konseling” secara umum, terletak pada landasan spirit-moralitas pelaksanaannya yang disandarkan pada acuan petunjuk al-Qur’an dan al-Hadist. Seorang pembimbing atau konselor yang melakukan kegiatan bimbingan atau konseling Islam, merupakan seorang yang memeluk agama Islam dan motif serta tujuan yang melatarbelakangi kegiatan tersebut didasarkan kepada nilai-nilai Islamis.

Menurut Pietrofesa, proses bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki enam unsur yaitu ; adanya proses pemberian bantuan yang bersifat timbal balik, adanya seseorang yang dipersiapkan secara profesional membantu orang lain, adanya tujuan untuk pemahaman diri klien sendiri, adanya pembuatan keputusan dan pemecahan masalah, adanya pertemuan yang benar-benar tulus (tanpa ancaman), dan adanya hasil yang sangat bergantung pada kualitas hubungan.

Konstruk Epistemologis dan Aksiologis Konseling Islam

Berdasarkan kajian ontologis disebutkan bahwa bimbingan dan konseling Islam merupakan kegiatan pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang konselor muslim terhadap klien, agar dia mampu melakukan pemahaman terhadap dirinya sendiri dan mengambil keputusan untuk keluar dari permasalahan yang dihadapi, melalui suatu kualitas hubungan yang hangat dan profesional dengan didasarkan pada nilai-nilai Islami.

Dalam konstruks keilmuan (epistemologis) bimbingan konseling Islam, dua hal yang perlu diperhatikan yaitu, aspek konselor dan aspek nilai-nilai Islam. Secara normatif, kegiatan bimbingan konseling Islam juga memakai teori-teori psikologi yang ada sebagai objek formalnya. Sehingga secara keilmuan, bimbingan konseling Islam tidak lepas dari kaidah-kaidah psikologi selama teori tersebut sejalan dan berkaitan dengan nilai-nilai Islami yang ada dalam al-qur’an dan as-sunnah.

Begitu pula secara aksiologis, bimbingan dan konseling islami tidak memiliki perbedaan signifikan. Secara umum, nilai kegunaan pelaksanaan bimbingan dan konseling Islam adalah untuk memberikan bantuan kepada orang lain. Namun dalam prakteknya secara khusus, pelaksanaan bimbingan dan konseling Islam terkadang tidak bisa dipisahkan dari fungsi aksiologis dakwah islam juga yaitu membantu seorang klien agar kembali bisa hidup selaras dengan fitrah tauhidnya dan mendapatkan ketenangan, kebahagiaan serta kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.

Berdasarkan uraian di atas, ide-ide pokok dari pengembangan konsep bimbingan konseling Islam, yaitu :
1.     Gagasan mengenai Islamisasi Ilmu tidaklah harus di akhiri dengan produk-produk keilmuan yang bersifat eksklusif dan superioritas.
2.  Nilai-nilai ajaran Islam selalu mengandung unsur-unsur pendukung nilai-nilai keilmuan yang ada, karena Islam itu ilmiah dan masuk akal.
3.      Setiap disiplin keilmuan yang dihasilkan berdasarkan proses ijtihad selalu bersifat historis (pengalaman).
4.      Proses konseling merupakan bagian dari aktivitas kemanusiaan.
5.     Berdasarkan kajian ontologisnya, antara konseling Islam dengan konseling lainnya, dibedakan dari aspek status konselornya dan spirit moralitas yang dijadikan sebagai payung kegiatan konseling.
6.     Gagasan tentang bimbingan konseling Islam bukan hanya karena kesamaan dari konsep bimbingan konseling secara umum, namun lebih kepada nilai-nilai Islam tentang ­amar ma’ruf nahi munkar, dan dakwah bil hal (tindakan nyata) dalam kaidahnya individu sebagai seorang manusia beragama.

Billahi fii Sabillil haq, Fastabiqul Khoirat...
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakkatu...
Baca Selengkapnya → Pengertian Bimbingan Konseling Islam