SAATNYA DAN SELAYAKNYA ANDA MENGETAHUI

Sabtu, 27 Oktober 2012

Pengertian Stres Dalam Psikologi

A. Teori Stres
 
Stres merupakan fenomena psikofisik yang manusiawi, dialami oleh setiap orang dengan tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan, atau status sosial. Stres dapat memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap individu. Positifnya adalah mendorong individu untuk melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru. Negatifnya adalah menimbulkan rasa tidak percaya diri, penolakan, marah, depresi, yang memicu munculnya penyakit seperti sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi, atau stroke.

     Teori dasar tentang stres dapat disimpulkan ke dalam tiga variabel pokok (Ray Woolfe dan Windy Dryden, 1998: 530-532, James W. Greenwood III & James W. Greenwood Jr., 1979: 30). Berikut penjelasan ketiga variabel tersebut.
1.    Variabel Stimulus
Variabel ini dikenal pula dengan engneering approach (pendekatan rekayasa), yang mengonsepsikan stres sebagai suatu stimulus atau tuntutan yang mengancam (berbahaya), yaitu tekanan dari luar terhadap individu yang dapat menyebabkan sakit (mengganggu kesehatan). Dalam model ini, stres dapat juga disebabkan oleh stimulasi eksternal, baik sedikit maupun banyak.
2.    Variabel Respons
Variabel ini disebut pula dengan physiological approach (pendekatan fisiologis) yang di dasarkan pada model triphase dari Hans Selye. Ia mengembangkan konsep yang lebih spesifik tentang reaksi manusia terhadap stressor, yang ia namakan GAS (general adaption syndrome). GAS terdiri atas tiga tahap :
·      Pertama, reaksi alarm, yang terjadi ketika organisme merasakan adanya ancaman, yang kemudian meresponsnya dengan fight atau flight.
·      Kedua, resistance, yang terjadi apabila stres itu berkelanjutan, terjadi perubahan fisiologis yang mengimbangi sebagai upaya mengatasi ancaman.
·      Ketiga, exhaustion, yang terjadi apabila stres terus berkelanjutan di atas periode waktu tertentu, sehingga organisme mengalami sakit.
Selye mengemukakan bahwa stres merupakan hal yang esensial bagi kehidupan. Tanpa stres tidak ada kehidupan, namun kegagalan dalam mereaksi stressor merupakan pertanda kematian.
3.    Variabel Interaktif
Variabel ini meliputi dua teori, yaitu interaksional dan transaksional, berikut penjelasan masing-masing.
a.    Teori Interaksional
Teori interaksional memfokuskan pembahasannya kepada aspek-aspek keterkaitan antara individu dengan lingkungannya, dan hakikat hubungan antara tuntutan pekerjaan dengan kebebasan mengambil keputusan.
b.    Teori Transaksional
         Teori transaksional memfokuskan pembahasannya kepada aspek-aspek kognitif dan afektif individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam teori Lazarrus dan Folkman (1984) mendefinisikan stres sebagai hasil (akibat) dari ketidakseimbangan antara tuntutan dengan kemampuan. Terkait dengan variabel respons terhadap stres, Walter Cannon (1932) mengemukakan pendapat bahwa manusia merespons peristiwa stres dengan fisik maupun psikis untuk mempersiapkan dirinya, mengatasi atau menghindari dari stres.
       Menurut Dadang Hawari (1997 : 44-45), istilah stres tidak dapat dipisahkan dari distress dan depresi karena satu sama lainnya saling terkait. Stres merupakan reaksi fisik terhadap permasalahan hidup, dan apabila fungsi organ tubuh sampai terganggu, dinamakan distress. Sedangkan depresi merupakan reaksi kejiwaan terhadap stressor yang dialaminya.
B.     Stres pada Setiap Periode Kehidupan
1.    Stres pada Masa Bayi
Situasi stres yang umumnya dialami oleh bayi merupakan pengaruh lingkungan yang tidak ramah (unfamiliar) dan adanya keharusan bagi bayi untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan atau peraturan orang tua. Pada proses penyesuaian diri inilah bayi sering mengalami stres karena kemampuan penyesuaian diri bayi terhadap tuntutan tersebut tidak berlangsung secara otomatis, tetapi melalui proses yang tidak jarang menimbulkan kesulitan.
2.    Stres pada Masa Anak
Stres pada anak-anak biasanya bersumber dari keluarga, sekolah, atau teman mainnya. Dalam keluarga yang “broken home” misalnya, atau keluarga miskin, anak-anak cepat sekali merasa stres terhadap perubahan-perubahan yang tidak dikehendakinya. Dalam lingkungan sekolah, anak yang tidak naik kelas, atau bermasalah dengan teman-temannya, akan cepat stres dan stres yang terjadi pada masa ini, sangat berpengaruh terhadap masa depannya.
3.    Stres pada Masa Remaja
Sumber utama terjadinya stres pada masa ini adalah konflik atau pertentangan antara dominasi peraturan dan tuntutan orang tua dengan kebutuhan remaja untuk bebas atau Independence dari peraturan tersebut. Gejala-gejala umum tentang kesulitan remaja dalam menyesuaikan diri ini antara lain membolos, bersikap keras kepala, berbohong, dan lain sebagainya.
4.    Stres pada Masa Dewasa
Banyak faktor terjadinya stres pada masa dewasa, di antaranya adalah gagal pernikahan, ketidakharmonisan keluarga, kehilangan pekerjaan, ketidakpuasan dalam hubungan seks, perselingkuhan, keadaan hamil, dan lain sebagainya. Stres pada masa ini sangat berisiko mengakibatkan penyakit beruntun.

C.    Gejala Stres
     Gejala stres dapat diketahui dari gejala-gejala fisik maupun psikis. Gejala fisik di antaranya seperti sakit kepala, sakit lambung (mag), hipertensi (darah tinggi), sakit jantung atau jantung berdebar-debar, insomnia, mudah lelah, kurang selera makan, dll.
     Gejala psikis dari stres meliputi gelisah atau cemas, sulit berkonsentrasi, sikap apatis, sikap pesimis, hilang rasa humor, sering melamun, bersikap agresif, dll. Gejala-gejala tersebut kecenderungan awal dari seseorang yang mengalami stres dalam hidupnya.

D.    Faktor-Faktor Penyebab Stres (Stressor)
1.    Stressor Fisik Biologis
Faktor-faktor penyebab stres dari segi fisik antara lain ; penyakit menahun, cacat fisik, wajah yang tidak cantik atau ganteng, postur tubuh kurang ideal, dll.
2.    Stressor Psikologis
Stressor psikologi ditandai dengan negative thinking atau berprasangka buruk, frustrasi (kekecewaan karena gagal dalam memperoleh sesuatu yang diinginkan), perasaan cemburu, konflik pribadi, keinginan yang di luar kemampuan, dll.
3.    Stressor Sosial
·    Pertama, faktor keluarga, hubungan keluarga tidak harmonis (broken home), anak yang nakal, sikap dan perlakuan orang tua yang keras, tingkat ekonomi keluarga yang rendah.
·  Kedua, faktor pekerjaan, pengangguran, terkena PHK (pemutusan hubungan kerja), perselisihan dengan atasan, pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan minat dan kemampuan yang dimiliki, penghasilan kerja yang belum mencukupi.
·      Ketiga, faktor lingkungan, dampak kriminalitas, tawuran antar kelompok, harga kebutuhan pokok yang mahal, polusi lingkungan, kemacetan lalu lintas, kehidupan politik dan ekonomi yang tidak stabil.
       
a.       Respons Emosional
        Stres dapat menimbulkan suasana hati yang negatif (tidak nyaman). Menurut Woolfolk dan Richardson (1978), reaksi emosi itu meliputi perasaan kesal, marah, cemas, takut, murung, sedih, dan duka cita.

b.      Respons Fisiologis
1) The fight or flight respons, yaitu reaksi fisiologis terhadap ancaman dengan memobilisasi organisme untuk melawan (fight) atau menghindari (flight) ancaman atau sesuatu yang membahayakan.
2)   The general adaption syndrome, yaitu respons tubuh terhadap stres, yang terdiri atas tiga tahap, alarm, resistance, dan exhaustion (Seiye, 1974).
3)  Brain-body pathway. Saat terjadi stres, otak mengirim sinyal ke sistem endocrine sepanjang dua jalan utama (Asteria, 1985, dalam Weiten dan L. Loryd). Kelenjar-kelenjar endocrine itu seperti pituitary, pineal, thyroid, dan adrenal.

c.       Respons Behavioral
        Respons behavioral (tingkah laku atau aktivitas) terhadap stres umumnya melibatkan coping, yaitu berbagai upaya untuk menuntaskan, mengurangi, atau menoleransi tuntutan-tuntutan yang menyebabkan stres. Faktor-faktor yang mengganggu kestabilan (stres) organisme berasal dari dalam maupun luar, berikut penjelasan masing-masing.

1.      Faktor Biologis
a.    Genetika
Predisposisi biologis yang menyebabkan stres adalah faktor-faktor yang berkembang sebelum kelahiran atau komposisi genetika. Apabila seorang ibu yang mengandung suka mengonsumsi alkohol, obat-obatan, atau makanan yang tidak sehat, maka semua itu akan merusak perkembangan sang bayi yang sedang dikandungnya.

b.    Pengalaman Hidup
Setiap individu memiliki sejarah atau pengalaman hidup (life experience) yang unik. Pengalaman hidup merupakan proses transisi kehidupan individu mulai masa anak sampai dewasa. Masa transisi ini melahirkan suasana krisis atau stres pada diri individu.

c.    Tidur (Sleep)
Setiap orang memiliki kebutuhan untuk tidur, oleh karena itu, apabila individu mengalami kurang tidur atau tidak nyenyak, maka akan berakibat kurang baik bagi dirinya, seperti kurang semangat, mudah tersinggung, dan konsentrasi berkurang, dan mudah mengalami gangguan halusinasi.

d.   Diet
Kekurangan (malnutrisi) atau kelebihan nutrisi (seperti makanan yang berlebihan) cenderung mempengaruhi proses metabolisme tubuh yang normal, sehingga menimbulkan stres pada diri individu seperti, gangguan homeostasis, pola tidur yang tidak teratur, sakit hati, kanker, hingga stroke.

e.    Postur Tubuh
Postur merupakan fungsi dari kerangka dan perototan tubuh secara keseluruhan. Postur yang tidak sempurna akan mempengaruhi suasana psikologis individu dalam berinteraksi dengan individu lain. Sering kali, postur tubuh dipandang sebagai refleksi atau ekspresi dari sikap-sikap emosional individu tersebut.

f.     Kelelahan (Fatigue)
Secara teknis, kelelahan ini merupakan kondisi reseptor sensoris atau motor kehilangan kemampuan atau kekuatan untuk merespons stimulus. Kelelahan yang terus-menerus akan menyebabkan gangguan tidur, ketegangan otot, kurang nafsu makan, dan berkurangnya fungsi postur untuk melakukan suatu kegiatan yang dilakukannya.

g.    Penyakit (Disease)
Dalam pandangan modern, penyakit bukan kondisi yang hanya disebabkan oleh salah satu penyebab (stressor), tetapi juga oleh lebih dari satu stressor. Semua penyakit mengganggu ritme biologis yang normal dan cenderung menghasilkan kelelahan, pola tidur yang tidak teratur, dan gangguan lainnya yang kemudian berlanjut menjadi penyakit berbahaya.

h.    Adaptasi yang Abnormal
     Pertama, respons adaptif yang tidak memadai (hypoadaptasi), berbentuk sekresi yang tidak memadai dari anti hormon-hormon inflammatory, yang menyebabkan penyakit rematik, kulit dan mata, serta penyakit tulang.
· Kedua, respons adaptif yang eksesif (hyperadaptif), yang berbentuk over produksi hormon-hormon corticoid, yang menyebabkan penyakit jantung dan penyakit ginjal.
·   Ketiga, respons adaptif yang tidak tepat, yang terdiri atas sekresi hormonal atau respons terhadap stressor yang di luar kebiasaan. Kondisi ini dapat menyebabkan penyakit saraf atau mental, gangguan seksual, penyakit pencernaan, dan kanker.
Adaptasi yang abnormal ini dapat melemahkan kemampuan tubuh untuk memberikan respons yang normal terhadap stressor sehingga tubuh mudah terserang stres.

2.      Faktor Psikologis
·      Persepsi
Salah satu faktor yang terlibat dalam persepsi adalah sistem pancaindra. Ingatan, motivasi, gen keturunan, dan interpretasi dari sinyal yang diterima oleh pancaindra bersatu membentuk persepsi. Kebanyakan stres (executive stress) terjadi dikarenakan sesuatu yang kita lihat atau dengar. Selama kita bisa mengendalikan persepsi kita sendiri, kita juga dapat mengendalikan sumber stres.

·      Perasaan dan Emosi
§  Pertama, kecemasan = merupakan reaksi diri untuk menyadari suatu ancaman yang tidak menentu. Perasaan cemas yang berkepanjangan dapat menyebabkan kekhawatiran, ketakutan, dan perilaku stres lainnya.
§  Kedua, bersalah dan rasa khawatir = merupakan kegelisahan karena suatu ancaman, sebagian orang akan menyalahkan atau bahkan membenci dirinya sendiri.
§  Ketiga, rasa takut = merupakan kecemasan berkaitan dengan peristiwa yang akan terjadi, tanggapan terhadap ancaman tertentu. Rasa takut yang tak terkendali dapat menjadi perilaku yang mengakibatkan stres.
§  Keempat, marah = emosi kuat yang ditandai dengan adanya reaksi sistem saraf yang akut dan dengan adanya sikap melawan. Menahan marah dapat menyebabkan naiknya tekanan darah dan gangguan psikosomatik lainnya dan hal ini dapat menyebabkan frustrasi, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan stres.
§  Kelima, cemburu = keinginan untuk menguasai, mengendalikan, atau mempermudah seseorang sebagai rasa kepemilikan atas orang tersebut. Cemburu dapat menimbulkan rasa cemas, takut, gelisah, atau marah.
§  Keenam, kesedihan dan kedukaan = rasa sakit atau pilu yang diakibatkan adanya perubahan-perubahan yang tidak disukainya. Kesedihan atau rasa duka dapat menumbuhkan emosi yang dapat menyebabkan stres.

·      Situasi
Situasi yang dapat menimbulkan stres :
§  Ancaman = keadaan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan diri akibat kejahatan, kecelakaan, kerusakan, kehilangan, dll.
§  Frustrasi = gangguan dalam serangkaian usaha individu untuk mencapai tujuan tertentu, atau individu mengalami keterlambatan dalam mencapai tujuannya. Frustrasi yang berkepanjangan dapat menimbulkan stres.
§  Konflik = pertentangan pandangan dengan tujuan, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Ketidakmampuan seseorang untuk mengatasi konflik dapat menyebabkan stres.

·      Pengalaman Hidup
Pengalaman hidup meliputi keseluruhan kejadian psikologis seorang individu selama hidupnya.
§  Pertama, perubahan hidup. Pengalaman hidup itu bersifat kumulatif, dan kemampuan setiap individu untuk mengatasinya dibatasi oleh waktu. Setiap stres yang dialami oleh individu akan mengurangi kemampuan beradaptasi yang dimilikinya.
§  Kedua, masa transisi kehidupan. Dalam kehidupan individu, ada saatnya masa stabil, dan ada juga masa labil. Pada masa muda atau remaja, masalah-masalah baru muncul terkait dengan penggunaan waktu, identitas diri, dan pembaruan diri selalu mendesaknya. Jika remaja tidak siap terhadap perubahan-perubahan yang dapat terjadi, atau mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi, dapat menyebabkan stres.
§  Ketiga, krisis kehidupan. Sesuatu yang dilihat oleh seseorang sebagai perubahan yang radikal (krisis kehidupan) dapat dilihat sebagai awal untuk melangkah bagi orang lain. Krisis kehidupan tergantung pada kesadaran dan penilaian setiap individu, ketidakmampuan dalam mengubah krisis tersebut dapat menyebabkan stres.

·      Keputusan Hidup
Teori analisis transaksional menyatakan bahwa dalam menjalani kehidupan, setiap orang akan berada dalam salah satu dari empat posisi kehidupan. Hubungan interpersonal individu dapat berjalan dengan lancar atau stres, jika tidak mampu mengatur posisi tersebut secara wajar atau normal maka ia cenderung mengalami stres.

·      Perilaku (behavior)
Perilaku secara umum didefinisikan sebagai semua output dari setiap tingkatan hierarki dari sistem saraf, seperti sensasi, perasaan, emosi, kesadaran, penilaian, dan lain sebagainya.

·      Respons Perlawanan dan Melepaskan atau Melarikan Diri
Perilaku agonistic adalah aktivitas penyesuaian diri terhadap suatu penderitaan atau ancaman bahaya. Sikap menghindari bahaya merupakan sifat dasar semua makhluk, khususnya manusia.

·      Reaksi Perlawanan (fight reacton)
Sikap melawan, agresi, menyerang dan bertahan adalah sikap yang paling umum dilakukan oleh seseorang terhadap suatu penderitaan atau stimulus yang menyakitkan. Semua perilaku agonistic cenderung menolak pengaruh orang atau hal lain yang telah atau kelihatannya dapat menimbulkan stimulus yang menyakitkan.

·      Reaksi Melepaskan Diri (flight reaction)
Keberhasilan reaksi melepaskan diri akan menolong pelakunya keluar dari gejala stres. Tetapi, keadaan ini diikuti dengan perasaan marah, bersalah, cemas, dan gelisah dan perasaan lainnya terganggu oleh kondisi, tinjauan, dan reaksi diri saat stres. Pola emosi serta efek fisik dan psikologis yang dihasilkan sama, baik itu oleh respons perlawanan atau melepaskan diri.

·      Diam (immobility)
Immobility psikologis dapat berupa penolakan untuk membuat suatu keputusan (bimbang), atau ketidakmampuan untuk membuat keputusan. Immobility psikologi meliputi interupsi siklus biologis dalam tubuh yang dapat mengakibatkan frustrasi dan hal merugikan lainnya. Immobility psikologi yang lama dan berkepanjangan dapat mengakibatkan perasaan ketergantungan patologis dan perasaan ketidakberdayaan.

3.      Faktor Lingkungan
·     Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik meliputi cuaca, peristiwa alam, suasana tempat yang tidak nyaman, dan lingkungan yang kotor atau polutif.

·      Lingkungan Biotik
Penyakit-penyakit seperti bakteri dan virus yang menyebabkan kerusakan pada tubuh, sehingga meningkatkan risiko stres.

·      Lingkungan Sosial
Manusia merupakan sumber stres, yaitu manusia dalam lingkungan kehidupan sosial yang lebih luas, permasalahan-permasalahan, konflik-konflik, dan aktivitas lainnya, sehingga menciptakan situasi rawan stres.
Baca Selengkapnya → Pengertian Stres Dalam Psikologi

Rabu, 24 Oktober 2012

Teori Abstrak Tentang Cinta


Cinta adalah emosi dasar manusia, tetapi memahami bagaimana dan mengapa hal itu terjadi bukanlah hal yang mudah. Bahkan, untuk waktu yang lama, para ilmuwan beranggapan bahwa cinta hanyalah sebuah ilmu tidak bisa mengerti. Cinta bagaikan sebuah hal yang abstrak yang tidak terjamah namun sangat sering kita alami bahkan kita rasakan. Kadang kita ragu apakah semua itu bisa dikatakan cinta atau hal alami atau bahkan hanya ilusi. Berikut ini adalah 4 teori cinta yang menjelaskan perbedaan antara cinta, suka (menyukai) dan ikatan emosional.


1.    Cinta Romantis

Psikolog Zick Rubin menjelaskan bahwa cinta yang romantis terdiri dari tiga unsur, yakni : keterikatan (attachment), kepedulian (caring) dan keintiman (intimacy). Keterikatan adalah kebutuhan untuk menerima perhatian dan kontak fisik dengan orang lain. Kepedulian (caring) adalah kemampuan yang anda miliki untuk menghargai dan memberikan kebahagiaan untuk orang lain. Sedangkan keintiman (intimacy) mengacu pada kebutuhan untuk berbagi pemikiran, keinginan dan perasaan dengan orang lain.

Berdasarkan definisi tersebut, Rubin merancang skala tentang menyukai dan mencintai (Rubin’s Scales of Liking and Loving). Skala ini mengungkapkan apakah seseorang mencintai atau hanya sebatas menyukai. Dalam sebuah studi, Rubin meminta sejumlah responden untuk mengisi skala, berdasarkan bagaimana perasaan mereka kepada pasangan dan teman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasaan terhadap teman memiliki skor tinggi pada skala menyukai dan perasaan terhadap pasangan memiliki nilai tinggi pada skala mencintai.

Cinta bukanlah konsep yang konkret dan karena itu sulit untuk diukur. Namun, Rubin’s Scales of Liking and Loving menawarkan cara untuk mengukur perasaan cinta yang kompleks.

2.    Cinta dan Gairah

Menurut profesor psikologi Universitas Hawaii, Elaine Hatfield, ada dua tipe dasar cinta, yaitu cinta kasih sayang (compassionate love) dan gairah cinta (passionate love). Cinta kasih sayang ditandai dengan adanya saling keterikatan, saling menghormati, menghargai, kepedulian dan kepercayaan. Kasih sayang biasanya tumbuh berkembang dari perasaan saling pengertian dan rasa saling menghargai satu sama lain.

Sedangkan cinta yang dilandasi gairah (passionate love) ditandai dengan emosi yang intens, daya tarik seksual, kecemasan dan afeksi. Ketika cinta terbalaskan (reciprocated love), orang merasa gembira dan bahagia. Namun jika cinta tak terbalaskan (unreciprocated love), akan menyebabkan perasaan sedih, sakit hati dan bahkan putus asa.

Hatfield menunjukkan bahwa cinta yang didasari oleh gairah adalah fana, karena dipengaruhi fungsi fisiologis pada manusia. Seperti anda merasa bergairah jika berada di depan seorang wanita cantik atau lelaki keren. Menurut Hatfield, idealnya, cinta adalah hubungan yang menggabungkan antara kenyamanan dan kasih sayang dengan gairah itu sendiri. Sehingga hubungan antara pasangan akan bertahan lama dan terhindar dari masalah selingkuh maupun perceraian.

3.    Cinta Segitiga

Pada tahun 1973, John Lee dalam buku klassik-nya The Colors of Love, menganalogikan tipe cinta dengan teori tentang roda/lingkaran warna (color wheel/color circle), yakni sebuah ilustrasi abstrak tentang keterkaitan antara warna-warna primer, warna sekunder dan warna komplementer.

Lee menjelaskan bahwa ada tiga tipe utama dari cinta, yaitu adalah Eros, Ludos dan Storge. Eros adalah perasaan cinta kepada seseorang yang dianggap paling ideal. Ludos menganggap cinta sebagai sebuah permainan, sedangkan storge menganggap cinta sebatas persahabatan.

Sama halnya dengan analogi color wheel, cinta juga merupakan kombinasi antara Eros, Ludos dan Storge. Kombinasi tersebut antara lain;
  • Mania (Eros + Ludos) = Cinta yang obsesif (Obsessive love);
  • Pragma (Ludos + Storge) = Cinta yang realistis dan praktis (practical love);
  • Agape (Eros + Storge) = Cinta tanpa pamrih (Selfless love)


Cinta segitiga yang dimaksud di sini bukan yang sering kita dengar; adanya pihak ketiga dalam sebuah hubungan. Melainkan tiga komponen cinta (triangular theory of love) menurut Robert Sternberg. Sternberg menjelaskan bahwa ada tiga komponen cinta, yaitu : keintiman (intimacy), gairah (passion) dan komitmen (commitment).
  • Keintiman – Yang meliputi perasaan keterikatan, kedekatan, keterhubungan, dll.
  • Passion – Yang meliputi antara cinta yang romantis dan daya tarik seksual.
  • Komitmen – Yakni keputusan untuk tetap bersama pasangan dalam waktu yang panjang.


Kombinasi yang berbeda dari ketiga komponen menghasilkan berbagai jenis cinta. Misalnya, kombinasi keintiman dan komitmen dalam cinta kasih penuh kasih sayang (compassionate love), sedangkan kombinasi gairah dan keintiman menyebabkan gairah cinta (passionate love).

Sternberg memperkenalkan istilah cinta sempurna (consummate love) untuk menggambarkan kombinasi antara keintiman, gairah dan komitmen. Hubungan yang dibangun pada dua individu akan lebih sempurna jika didasarkan pada kombinasi ketiganya. Meskipun begitu, Sternberg menyangsikan adanya cinta yang sempurna di dunia ini.

4.    Cinta Dalam Islam

Bila berbicara cinta dalam pandangan islam, maka tidak lepas dari kata pernikahan. Dalam islam cinta berarti memiliki satu sama lain, perasaan ingin bersama, perasaan ingin selalu bertemu. Satu hal yang berbeda adalah, dalam islam sudut pandang cinta bisa dilihat sebagai dua sisi yang bertolak belakang, seperti cinta jadi benci atau benci jadi cinta.

“Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah benda (perhiasan) dan sebaik-baiknya benda (perhiasan) adalah wanita (istri) yang sholehah. (HR. Muslim).

Dalam islam, seorang yang mencintai orang lain haruslah terikat dalam sebuah hubungan yang sah (pernikahan), karena rasa cinta sulit dibendung dan banyak menimbulkan maksiat dan nafsu syahwat.

“Barangsiapa mengawini seorang wanita karena memandang kedudukannya maka Allah akan menambah baginya kerendahan, dan barangsiapa mengawini wanita karena memandang harta-bendanya maka Allah akan menambah baginya kemelaratan, dan barangsiapa mengawininya karena memandang keturunannya maka Allah akan menambah baginya kehinaan, tetapi barangsiapa mengawini seorang wanita karena bermaksud ingin meredam gejolak mata dan menjaga kesucian seksualnya atau ingin mendekatkan ikatan kekeluargaan maka Allah akan memberkahinya bagi isterinya dan memberkahi isterinya baginya. (HR. Bukhari)

“Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

“Cinta berkelanjutan (diwariskan) dan benci berkelanjutan (diwariskan). (HR. Bukhari).

Cinta dalam islam tidak bisa lepas dari kecintaan (ketaatan) seseorang kepada perintah Tuhan-nya, dan kebencian (menjauhi) seseorang kepada larangan Tuhan-nya.

Cinta dalam islam ibarat termometer, bila terlalu cinta akan membuat seseorang fanatik, sedangkan bila terlalu benci akan membuat seseorang fanatik pula terhadap seseorang.

Cinta bukan untuk diteliti keberadaannya, tapi untuk dirasakan indahnya, sehingga manusia sadar betapa pentingnya cinta itu namun tetap sadar siapa yang telah menciptakan cinta tersebut.

Rujukan :
  • Rubin, Zick. 1970. Measurement of romantic love. Journal of Personality and Social Psychology
  • Hatfield, E., & Rapson, R. (2005). Love and sex: Cross-cultural perspectives. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon.
  • Lee JA (1973). Colours of love: an exploration of the ways of loving. Toronto: New Press
  • Robert J. Sternberg, “Triangulating Love”, in T. J. Oord ed. The Altruism Reader (2007)
  • Hadist web’s. Kumpulan dan referensi belajar hadist.

Baca Selengkapnya → Teori Abstrak Tentang Cinta

Kamis, 18 Oktober 2012

Antara Konsep Diri Positif & Negatif


        Konsep diri merupakan faktor penting di dalam berinteraksi. Hal ini disebabkan oleh setiap individu dalam bertingkah laku sedekat mungkin disesuaikan dengan konsep diri. Kemampuan manusia bila dibandingkan dengan makhluk lain adalah lebih mampu menyadari siapa dirinya, mengobservasi diri dalam setiap tindakan serta mampu mengevaluasi setiap tindakan sehingga mengerti dan memahami tingkah laku yang dapat diterima oleh lingkungan.
         Dengan demikian manusia memiliki kecenderungan untuk menetapkan nilai-nilai saat memberikan persepsi pada sesuatu. Setiap individu dapat saja menyadari keadaannya atau identitas yang dimilikinya akan tetapi yang lebih penting adalah menyadari seberapa baik atau buruk keadaan yang dimiliki serta bagaimana harus bersikap terhadap keadaan tersebut. Tingkah laku individu sangat bergantung pada kualitas konsep dirinya yaitu konsep diri positif atau konsep diri negatif.
        Menurut Brooks dan Emmart (1976), orang yang memiliki konsep diri positif menunjukkan karakteristik sebagai berikut:
  •     Merasa mampu mengatasi masalah. Pemahaman diri terhadap kemampuan subyektif untuk mengatasi persoalan-persoalan obyektif yang dihadapi.
  •    Merasa setara dengan orang lain. Pemahaman bahwa manusia dilahirkan tidak dengan membawa pengetahuan dan kekayaan. Pengetahuan dan kekayaan didapatkan dari proses belajar dan bekerja sepanjang hidup. Pemahaman tersebut menyebabkan individu tidak merasa lebih atau kurang terhadap orang lain.
  •    Menerima pujian tanpa rasa malu. Pemahaman terhadap pujian, atau penghargaan layak diberikan terhadap individu berdasarkan dari hasil apa yang telah dikerjakan sebelumnya.
  •     Merasa mampu memperbaiki diri. Kemampuan untuk melakukan proses refleksi diri untuk memperbaiki perilaku yang dianggap kurang.
       Sedangkan orang yang memiliki konsep diri yang negatif menunjukkan karakteristik sebagai berikut:
  •     Peka terhadap kritik. Kurangnya kemampuan untuk menerima kritik dari orang lain sebagai proses refleksi diri.
  •     Bersikap responsif terhadap pujian. Bersikap yang berlebihan terhadap tindakan yang telah dilakukan, sehingga merasa segala tindakannya perlu mendapat penghargaan.
  •     Cenderung merasa tidak disukai orang lain. Perasaan subyektif bahwa setiap orang lain di sekitarnya memandang dirinya dengan negatif.
  •       Mempunyai sikap hiperkritik. Suka melakukan kritik negatif secara berlebihan terhadap orang lain.
  •     Mengalami hambatan dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya. Merasa kurang mampu dalam berinteraksi dengan orang-orang lain.
Sumber ; Brooks, W.D., Emmert, P. Interpersonal Community. Iowa. Brow Company Publisher. 1976
Baca Selengkapnya → Antara Konsep Diri Positif & Negatif

Rabu, 17 Oktober 2012

Penyebab Anda Tidak Beruntung Dalam Hidup


Jika Anda sering merasa sebagai orang yang tidak beruntung atau merasa rendah diri, yang sebenarnya bisa jadi sebagian besar hal-hal itu semua Anda sendiri yang menciptakannya. Diri Anda adalah bagaimana cara Anda memandang diri Anda, karena perasaan Anda sangat besar pengaruhnya terhadap diri Anda. Coba cermati 10 hal penyebab sial di bawah ini, mungkin saja ada yang salah dengan pola pikir Anda selama ini, maka sudah selayaknya pemikiran dan keyakinan Anda perlu diubah lagi.


1. Tak Punya Selera Humor (Belajarlah Tertawa)
Jika Anda tipe orang yang menanggapi segala hal secara serius, maka Anda masuk daftar pertama ini. Mulailah belajar tertawa. Tawa adalah obat paling ampuh dalam segala hal. Jika Anda tak dapat menjadikan permasalahan yang Anda hadapi sebagai lelucon, malah sebaliknya mengeluh panjang lebar tentang masalah tersebut, bisa jadi masalah ini sebenarnya tidak seburuk yang Anda pikirkan. Sekali Anda buktikan, maka sepanjang hidup semua masalah tak seburuk yang Anda kira. Singkatnya, Anda perlu belajar bagaimana tertawa dalam menghadapi permasalahan yang Anda anggap sulit.

2. Menyalahkan Pihak Lain (Ketahuilah Konsep Diri)
Jika Anda adalah seseorang yang mudah tertekan, dan ketika tekanan itu datang, Anda lari dari tekanan menganggap diri tidak mampu lagi menghadapi, dan ujung-ujungnya atas kesalahan yang Anda buat, Anda menyalahkan orang lain sebagai kambing hitam, ketahuilah bahwa Anda sama saja dengan orang munafik. Sekali lagi, berhentilah merasa menyesali diri dan berhentilah mengeluh. Jika usaha yang Anda lakukan tidak membawa hasil seperti yang diharapkan, maka lakukan hal yang berbeda. Jadi orang yang berbeda sesekali, bisa jadi hal bagus buat diri Anda. Ingat, mulailah dengan berhenti mengeluh, dan bersabarlah dengan segala keadaan yang Anda hadapi.

3. Tidak Bahagia Dengan Diri Sendiri (Belajarlah Jadi Diri Sendiri)
Jika Anda adalah tipe orang yang tidak bahagia atau merasa diri tidak menarik, tidak istimewa, atau tidak puas dengan apa yang ada pada diri Anda, sebenarnya saat ini Anda sudah dibohongi diri Anda sendiri. Kenapa bisa begitu? Dengan apa Anda membandingkan diri sendiri? Anda sendiri atau orang lain? Yang Sebenarnya, Anda bisa menemukan sesuatu dalam diri sendiri yang membuat Anda bahagia, atau melakukan perubahan. Coba sekali lagi Anda becermin dan lihat diri Anda, katakan pada cerminan Anda, siapa Anda, apa yang bisa Anda lakukan, apa yang orang pikirkan tentang Anda, dan sebagainya. Tidak seorang pun di dunia ini yang dapat menghentikan Anda berpikir bahwa Anda menarik. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu mengatakan dengan jujur bahwa Anda istimewa, selain diri Anda sendiri, dan Anda harus yakin dengan kebenaran yang ada.

4. Tidak Memiliki Harapan (Mulailah Bermimpi)
Semua orang memiliki harapan, semua orang punya impian dan keinginan, entah itu disadari atau tidak, kita sebagai manusia selalu berusaha untuk memenuhi semua harapan kita. Jika Anda adalah seseorang yang tidak memiliki harapan, Anda perlu belajar lagi apa makna harapan yang Anda pikirkan, tidaklah perlu mengetahui ribuan pengertian harapan dari orang lain, yang terpenting Anda paham makna harapan bagi diri Anda sendiri. Tidak seorang pun yang dapat membuat Anda merasa lebih baik selain diri Anda sendiri. Anda tidak bisa mengharapkan dunia berubah untuk Anda sebelum Anda mengubah diri.

5. Bertindak Lebih Dari Kemampuan (Mulailah Bekerja Sama)
Jika Anda adalah seorang yang pintar dan sangat tekun dalam belajar atau bekerja namun kepintaran Anda membuat Anda tidak percaya dengan orang lain dan mengerjakan segala sesuatu secara sendirian dan berlebihan. Tindakan ini membuat Anda jadi tumpul, dan khususnya tak berarti "Semua pekerjaan dan tidak ada permainan “. Ketahuilah sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial, tidak ada perihal yang dapat Anda lakukan sendirian tanpa bantuan orang lain. Mungkin saja Anda beranggapan bahwa Anda pintar dengan kemampuan Anda mampu melakukan sesuatu, namun cobalah Anda pikirkan apabila perihal yang Anda lakukan dikerjakan dengan orang banyak dan untuk orang lain, tentu hasilnya jauh lebih baik dan lebih bermakna.

6. Khawatir Berlebihan (Mulailah Optimis)
Jika Anda adalah seseorang yang sangat memikirkan sesuatu pada hal-hal yang membuat Anda khawatir, sebaiknya Anda membuka lagi wawasan Anda dalam memaknai suatu perihal. Semakin Anda khawatir, semakin kurang keyakinan Anda kalau segala sesuatunya akan berjalan dengan baik. Bagaimana Anda dapat mengharapkan mendapat tempat dalam kehidupan jika Anda tidak punya keyakinan atau rasa percaya diri ?. Seseorang yang sukses bukan hanya dilihat dari apa yang diraihnya, namun juga pola pikirnya dalam mengelola kecemasan dan kekhawatiran yang akan terjadi pada dirinya. Singkatnya, kelolalah hal-hal yang Anda takutkan akan terjadi pada diri Anda sebuah menjadi suatu kemampuan Anda untuk menciptakan solusi dan solusi yang dapat Anda lakukan.

7. Iri Dengan Keberuntungan Orang Lain (Bersikap Positif)
Jika Anda adalah seseorang yang sangat ingin beruntung dalam hidup, namun sangat iri melihat orang lain beruntung, maka cobalah Anda pahami lagi makna keberuntungan bagi diri Anda sendiri. Kapan pun Anda mendengar orang lain mendapat keberuntungan Anda selalu berseru, "Orang itu bikin aku sangat kesal!". Mungkin jika Anda ikut bergembira dengan keberuntungan orang lain, maka keberuntungan yang sama bisa menular pada Anda. Tidak ada yang salah dengan diri Anda selagi Anda bisa ikut bahagia dengan kebahagiaan orang lain dan Anda akan mendapatkan keberuntungan itu dari orang lain.

8. Menyalahkan Tuhan (Mulailah Bersyukur)
Kadang Anda berpikir betapa Tuhan tidak adil pada Anda. Mungkin sebaiknya mulai sekarang Anda belajar bersyukur dan maka hal-hal baik akan datang menggantikan hal-hal buruk. Anda bisa memulainya dengan bersyukur bangun dalam keadaan sehat di pagi hari.

9. Tidak  Menghargai Hal-Hal Baik Yang Anda Miliki (Tingkatkan Ikhlas)
Sebagai contohnya, Anda tidak pernah mensyukuri kalau Anda masih bisa bangun pagi ini dan melihat sinar matahari? Benar begitu? Mulai sekarang, Anda bisa menghitung kebaikan yang Anda miliki dalam hidup dari hal-hal kecil yang Anda miliki.

10. Mengeluh Terus Menerus (Tingkatkan Aktivitas)
Sebenarnya, mengeluhkan satu hal malah akan lebih banyak hal lain yang Anda keluhkan. Dan yang pasti semua orang merasa terganggu dengan orang yang suka mengeluh. Singkatnya, cobalah Anda pahami “ apakah perlu saya mengeluh “.

Bagaimana menurut Anda? Jika benar dari 10 hal di atas ada pada diri Anda. Cobalah lakukan perubahan, dan ketidakberuntungan itu hanya akan tinggal bayang-bayang....!!!
Baca Selengkapnya → Penyebab Anda Tidak Beruntung Dalam Hidup