SAATNYA DAN SELAYAKNYA ANDA MENGETAHUI

Sabtu, 16 Maret 2013

Bimbingan Konseling TK & SD : Konseling Untuk Anak


Konseling Pada Anak
Masa anak-anak adalah masa yang paling asyik, begitu sebagian bunyi slogan yang entah benar tidaknya karena masa anak-anak adalah masa-masanya manusia bebas untuk bermain jauh dari realita. Adapula masa anak-anak itu dianggap tidak penting, anak-anak dianggap sebagai bagian pasif dari budaya orang dewasa, sebagai objek kosong yang perlu diisi oleh beragam informasi dan nilai-nilai. Sehingga ada pernyataan mengatakan bahwa anak-anak itu hanya untuk dilihat, tidak usah didengar.
Sekarang barulah muncul gagasan-gagasan teoritik yang mengatakan bahwa masa anak-anak itu awal dari kehidupan dan masa pembentukan karakter yang paling krusial. Masa anak-anak yang sehat dianggap penting untuk perkembangan selanjutnya. Perkembangan konseling turut serta dalam kajian tentang masa anak-anak, awalnya konseling dianggap tidak diperlukan karena anak-anak belum memiliki masalah-masalah yang berarti. Namun sekarang ini sudah banyak perubahan yang terjadi sehingga anak-anak merupakan target konseling yang sangat penting.


Sifat Dasar Anak
Masa kanak-kanak merupakan masa yang unik, masa belajar yang sangat penting bagi perkembangan seorang individu. Konselor untuk anak yang baiknya haruslah memahami perkembangan anak yang normal sehingga dapat digunakan untuk mengevaluasi anak-anak yang memiliki masalah. Rousseau (Baruth dan Robinson III, 1987) mengatakan bahwa orang dewasa harus dipandang sebagai orang dewasa, dan anak sebagai anak, dan jalan menuju kesejahteraan jiwa adalah memberi anak-anak tempatnya masing-masing.
Menurut Maslow (1968) ada delapan karakteristik umum dari anak yang sehat yaitu :
1.      Spontan, ingin berinteraksi dengan lingkungan dan mengekspresikan keterampilan yang dimilikinya.
2.      Sehat secara fisik, tidak didominasi rasa takut dan merasa cukup aman untuk mengambil sebuah resiko.
3.      Pengalaman dengan lingkungan diperoleh secara kebetulan atau dengan bantuan orang lain/ orang dewasa.
4.      Cukup aman dan percaya diri dalam melakukan interaksi dan menerima berbagai konsekuensinya.
5.      Akan mengulangi pengalaman-pengalaman yang menurutnya berhasil.
6.      Kemudian berkembang ke arah pengalaman yang lebih kompleks.
7.      Pengalaman-pengalamannya yang sukses akan meningkatkan self-esteem dan perasaan mampu, memberi kekuatan, serta kontrol diri.
8.      Memilih untuk terus tumbuh dan maju.

Karakteristik Konseling Pada Anak-Anak
Anak-anak merupakan penonton atau cermin pada dunia orang dewasa, karena segala kebutuhannya untuk hidup masih sangat tergantung pada orangtua dan orang dewasa. Anak-anak terpaksa harus mengikuti, mereka belum mampu mengubah lingkungannya. Dalam hal konseling pada anak, peran konselor sebagai konsultan dan agen perubahan yang utama, konselor dapat melakukan hal-hal seperti ; mencoba mengubah anak sehingga lebih cocok dengan lingkungannya, mencoba mengubah lingkungan agar anak dapat berlaku dengan baik, atau gabungan dari kedua usaha tersebut.
Konseling pada anak haruslah memperhatikan pola pikir mereka yang masih cenderung egosentris yaitu sangat terpaku pada pola pikirnya sendiri. Anak-anak juga lebih intuitif dan konkret dalam berpikir sehingga sulit untuk memahami hal-hal yang abstrak. Pada anak-anak yang lebih kecil, orientasi mereka adalah masa sekarang, karena itulah pertemuan konseling sedapat mungkin dilakukan minimal dua kali seminggu agar mereka memperoleh manfaatnya. Proses konseling akan lebih bermakna bila anak memperoleh kesempatan untuk melakukan ekplorasi secara konkret, misalnya membuat sesuatu, bermain dengan sesuatu, dan lain-lain yang memberi kesempatan untuk mengeksplorasi secara konkret dunianya.


Konseling Anak Usia Dini (2-5 Tahun)
Bagi anak-anak usia dini, jarang sekali dilakukan konseling secara langsung, lebih tepatnya bisa disebut konsultasi, yaitu konselor melakukan intervensi kepada orang dewasa yang dekat dengan kehidupan anak dan dapat membantu masalah yang dihadapi anak. Konsultasi bisa dilihat sebagai suatu aktivitas di mana konselor bekerja dengan pihak ketiga untuk membantu klien. Fokusnya dari konsultasi adalah untuk prevensi dari faktor-faktor lingkungan. Konsultasi dapat dilakukan dengan cara-cara dan pada taraf yang berbeda, seperti sebagai berikut :
1.  Konsultasi Individual; konselor mengadakan konsultasi dengan orang-orang yang dekat dengan anak. Misalnya : orangtua, guru, anggota keluarga lain.
2. Konsultasi Kelompok; konselor melakukan konsultasi dengan sekelompok individu yang dapat mempengaruhi populasi anak secara umum. Misalnya : guru-guru yang ingin meningkatkan keterampilan di bidang hubungan interpersonal, dan orangtua yang ingin meningkatkan pemahaman tentang perkembangan anak.
3.   Konsultasi Organisasi; konselor menjadi konsultan dari suatu organisasi atau institusi yang memberi jasa kepada populasi anak, seperti misalnya : sekolah, panti asuhan atau yang lain sebagainya.
4.     Konsultasi Masyarakat; merupakan fokus terbesar dari konsultasi yang memiliki cakupan dan dampak yang luas atau menyeluruh. Misalnya : penyuluhan sosial yang di integrasikan dengan pendidikan atau kesehatan kepada masyarakat dalam suatu wilayah atau yang lebih luas lagi.

§  Tahapan-Tahapan Konsultasi
1.    Preentry. Mengklarifikasi nilai-nilai, kebutuhan dan asumsi-asumsi konsultan tentang manusia dan organisasi, juga melakukan asesmen terhadap kemampuan konsultasi.
2.  Entry. Mendefinisikan dan menetapkan hubungan konsultasi, aturan permainan, juga pernyataan tentang problem.
3.      Pengumpulan data. Mengumpulkan data untuk membantu klarifikasi masalah.
4.      Mendefinisikan masalah. Menggunakan informasi yang ada untuk menentukan sasaran perubahan.
5.   Menentukan solusi. Melakukan analisis dan sintesis dari informasi untuk mencari solusi terbaik terhadap masalah.
6.      Implementasi rencana.
7.      Evaluasi. Pemantauan aktivitas (evaluasi proses) sampai ke hasil (evaluasi hasil).
8.    Terminasi. Menyetujui untuk menghentikan kontak langsung dengan konsultan, dengan pemikiran bahwa efek konsultasi diharapkan akan tetap berlanjut.

§  Karakteristik Hubungan Konsultasi
1.      Merupakan suatu hubungan sukarela, yang awalnya bisa dicari oleh konsultan ataupun konsulte (orang atau instansi yang akan menerima konsultasi).
2.      Kedua belah pihak mempunyai hak untuk mundur dari hubungan ini pada suatu saat.
3.     Difokuskan pada membantu konsulte memenuhi peranannya sebagai mahasiswa, orangtua, guru dan lain-lain dengan cara yang lebih produktif yang akan memberi manfaat pada populasi klien.
4.    Merupakan hubungan yang sifatnya kooperatif, baik konsultan maupun konsulte bekerja bersama untuk menyelesaikan masalah atau untuk mencapai sasaran.
5.   Merupakan sesuatu yang berorientasi pada proses, konsultan memberi model tingkah laku efektif dan berusaha mengembangkan keterampilan konsulte sehingga konsulte dapat lebih baik menanggulangi masalah yang serupa di kemudian hari.


Konseling Anak Pada Middle Childhood (5-9 Tahun)
Secara umum, anak-anak usia ini menghadapi masalah pada empat area (Baruth & Robinson III, 1987) :
1.      Sekolah:
·         Memahami guru dan dipahami guru,
·         Takut bertanya di kelas,
·         Menghadapi tugas-tugas yang terlalu sulit,
·         Ingin lebih baik pada mata pelajaran tertentu,
·         Tidak menyukai bidang tertentu,
·         Dibebani pekerjaan yang terlalu mudah.

2.      Keluarga:
·         Ingin lebih dekat dengan orangtua,
·         Merasa orangtua terlalu ketat dan berharap terlalu banyak,
·         Ingin punya relasi lebih baik dengan saudara sekandung,
·         Ingin mempunyai lebih banyak kebersamaan dengan orangtua.

3.      Hubungan dengan orang lain:
·         Ingin punya lebih banyak teman,
·         Bahan ejekan teman,
·         Membuat teman yang disukai mau bermain dengannya,
·         Takut bicara dengan orang,
·         Belajar menyesuaikan dengan orang lain; untuk menjadi bagian dari sesuatu dan diterima.

4.      Diri sendiri:
·         Tidak bahagia,
·         Merasa tidak akurat secara fisik, sosial atau pribadi,
·         Belajar bagaimana mengelola perasaan,
·         Belajar menangani perasaan malu (shyness) atau perasaan sepi (lonesome).


Beberapa Teknik yang Dapat Digunakan
Konseling Melalui Bermain
Menurut Baruth dan Robinson III (1987), salah satu bentuk konseling yang sering digunakan untuk anak usia sekolah ini adalah konseling melalui bermain. Cara ini didasarkan pada fakta bahwa bermain merupakan cara natural bagi anak untuk mengekspresikan diri. Jadi bermain anak memperoleh kesempatan untuk play out perasaan-perasaan dan masalahnya.

Friendship Group
Baruth dan Robinson III (1987) menyebutkan suatu cara lain, yaitu dengan pelatihan “kelompok pertemanan”. Tujuan dari pembentukan kelompok ini adalah untuk menjajaki hubungan teman sebaya (peer) yang positif. Kelompok yang dibentuk bersifat heterogen (laki, perempuan, berbagai etnik, dan lain-lain). Pemilihan anggota kelompok ini berdasarkan pada minta dan rujukan oleh guru, asesmen dilakukan oleh konselor untuk memilih setiap anggota kelompok dalam satu kelompok. Pada dasarnya melalui kelompok ini anak belajar mengenai arti persahabatan serta aturan-aturan penting dalam hubungan persahabatan. Mereka diminta untuk mengobservasi teman kelompoknya, bermain peran, berdiskusi mengenai minat dan kelebihan masing-masing dan kemudian ditutup dengan pengungkapan kesan-kesan dari pertemuan mereka selama ini dalam pesta perpisahan.

Eksplorasi dari Isi Mimpi
Anak-anak pada dasarnya hidupnya banyak diselimuti mimpi, entah itu mimpi dalam arti bunga tidur maupun mimpi dalam arti impian, harapan atau cita-cita. Anak-anak yang menyangkal mimpi atau mengatakan tidak ingat isi mimpi mereka biasanya tidak menolak untuk mengarang sebuah mimpi atau berpura-pura bahwa mereka bermimpi. Isi dari “mimpi buatan” ini dapat memberi wawasan lebih lanjut tentang kehidupan fantasinya. Eksplorasi dari mimpi anak dapat menjadi sarana yang bemanfaat untuk masuk ke dalam pikiran dan perasaan yang mungkin tidak disadari oleh anak.

Menggunakan Board Games dan Aktivitas Formal Lainnya
          Barker (1990), menggunakan board games (seperti ular tangga, halma, dll) untuk menjalin kontak dengan anak-anak yang enggan untuk bicara banyak tentang dirinya sendiri dalam percakapan dan tidak dapat bermain dengan bebas dengan mainan dan materi-materi bermain lainnya yang ada. Board games atau permainan berstruktur formal lainnya, bisa lebih daripada hanya sarana untuk menjalin rapport dan membuat anak merasa nyaman. Misalnya dapat dilihat rasa percaya diri anak, kemauannya untuk bermain sesuai dengan peraturan dan tidak bermain curang. Rasa marah, sedih, putus asa, takut gagal, kemampuan menikmati permainan atau ekspresi untuk sukses dapat dilihat dari cara dan sikap anak dalam bermain.


Konseling Pra-Remaja (9-12 Tahun)
Usia ini seing disebut sebagai usia laten. Anak-anak usia ini cenderung berkelompok dengan teman sebaya dari jenis kelamin sama dan mempunyai ciri “ada dalam keadaan tidak aktif”, dan untuk orang dewasa sering tampak seperti ada dalam dunianya sendiri. Bentuk konseling yang dianjurkan adalah konseling bermain dan konseling dengan menggunakan media seperti seni, musik, drama, guided fantasy dan literatur.

Media Seni untuk Konseling
          Menurut Gumaer (Baruth & Robinson III, 1987). Seni dalam kegiatan konseling dapat bermanfaat bagi anak dalam hal seperti :
1.     Seni melibatkan anak untuk menggunakan pikiran dan panca indranya. Seni menuntut anak untuk berpikir sebelum bertindak. Mereka dilatih untuk menggabungkan berbagai input untuk menjadi produk yang terintegrasi (misalnya lukisan, patung).
2.    Anak dapat mengekpresikan pikiran dan perasaannya yang berhubungan dengan masa lalu, saat ini, maupun memproyeksikannya ke dalam aktivitas di masa depan.
3.   Seni memungkinkan anak untuk melakukan katarsis dari emosi-emosi negatif dalam bentuk yang dapat diterima lingkungannya. Anak yang agresif terhadap orang lain seringkali karena mereka tidak mempunyai strategi alternatif untuk melepaskan ketegangan mereka.
4.   Seni merupakan produk hasil dari inisiatif diri dan dikontrol oleh anak sehingga meningkatkan perkembangan ego.
5.      Media seni, proses artistik, dan hasil jadinya memberikan perasaan telah berprestasi, kepuasan dan harga diri.
6.      Seni dapat membantu pembentukan rapport dengan anak-anak yang pemalu, ragu-ragu atau nonverbal.
7.   Melalui seni, terapis dapat menyentuh aspek-aspek bawah sadar pada anak tanpa harus berhadapan dengan mekanisme defensnya.
8.      Seni memberikan tambahan data diagnostik bagi informasi lain yang diperoleh dalam konseling.

Bibliocounseling
Dalam konseling dengan pra-remaja dapat pula digunakan buku, puisi, cerita rakyat, dan sebagainya. Beberapa manfaat dari bibliocounseling adalah :
1.      Memberi informasi yang diperlukan dalam pemecahan masalah.
2.      Memberi instruksi dan petunjuk untuk pengembangan keterampilan.
3.      Mengidentifikasi dan memuaskan minat pribadi.
4.      Membantu membawa masalah yang direpresi ke alam kesadaran.
5.      Membantu pengkajian topik yang bersifat pribadi dan mengancam dengan memberi ide-ide dan cara-cara untuk mengomunikasikannya.
6.      Membantu pemahaman diri dan pemahaman tentang diri dalam hubungan dengan orang lain.
7.      Membantu proses sosialisasi dengan menstimulasi perasaan menjadi bagian dengan orang lain.
8.   Membantu timbulnya perasaan universalisasi, well-being, dan rasa aman dengan membantu anak-anak dengan memberi pemahaman bahwa orang-orang lain juga merasakan seperti mereka dan telah mengalami pengalaman serupa. Mengurangi perasaan sendiri dan terisolasi yang tipikal untuk anak-anak yang bermasalah.
9.      Membantu anak untuk rileks dengan mengurangi anxietas melalui kelegaan emosional.
10.  Membantu pengujian kembali sikap dan nilai.
11.  Memberi kesenangan dan hiburan melalui pengalaman estetik.
12.  Mengembangkan apresiasi kritis dan estetik mengenai nilai buku dan bentuk literatur lain (Gumaer ; Baruth & Robinson III, 1987).

Talk Therapy
          Barker (1990) menyebutkannya sebagai the talking interview. Tidak selamanya media perantara perlu digunakan dalam konseling. Sebagian anak-anak yang usianya lebih tua, lebih suka bicara langsung kepada konselor daripada menggunakan media perantara. Kepada anak-anak usia ini dapat dilakukan percakapan biasa seperti halnya pada remaja.

Melakukan konseling atau wawancara dengan anak merupakan suatu tantangan karena sangat membutuhkan keterampilan. Konselor harus siap untuk menghadapi berbagai macam rintangan. Anak-anak biasanya tidak asertif dan jarang yang menentang orang dewasa. Mereka biasanya akan memberi jawaban seperti yang diinginkan oleh orang dewasa. Anak-anak juga sanagat mudah untuk terdistraksi, konsentrasi dan fokus anak biasanya mudah terpecah dan mungkin tidak memahami maksud perkataan anda. Banyak hal yang harus diperhatikan oleh konselor yang berbicara dengan anak-anak, mereka harus menjaga agar tidak terpancing oleh sikap anak. Bila anak ketakutan atau tertekan biasanya dia justru akan diam. Berbicara dengan anak memang adalah suatu tantangan, tetapi bisa sangat menyenangkan, karena semua itu adalah suatu seni dalam mendidik dan membimbing.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Daftar Rujukan
-          Barker, P (1990). Clinical interview with children and adolescent. New York: W. W. Norton & Co.
-          Baruth, L.G. & Robinson III, E.H. (1987). An introduction to the counseling profession. Englewood Cliffs, N.J: Prentice Hall.
-          Corey, G. (2001). Theory and practice of counseling and psychotherapy. Sixth Ed. Belmont, CA: Wadsworth.
-          Lesmana, J.M. (2005). Dasar-dasar konseling. Jakarta: UI.

Tidak ada komentar: